Seperti rencana di entry sebelumnya, I'll try to list what I'm grateful for.
Yea.. I know, “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya,” (QS. Ibrahim:34) Tapi setidaknya saya coba deh, untuk mengingatkan diri sendiri saja setidaknya.
Meskipun saya termasuk orang yang betah menyendiri, tapi tidak bisa dipungkiri, one of my biggest blessings are people. Orang-orang baik, yang hadir di saat yang dibutuhkan. Nikmat dan kemudahan yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan.
Salah satu, atau salah beberapa-nya adalah my caregivers. Orang-orang yang mendampingi dan merawat selama saya sakit.
Betapa Allah mengatur dengan indahnya, ketika saya mulai tidak bisa ngapa-ngapain sendiri, kebetulan adik bungsu baru lulus dari kuliahnya di jurusan kebidanan. Dengan titah dari kanjeng mamih dan papih, dan kesepakatan khalayak ramai, yaitu kakak2nya (kakaknya adik saya maksudnya) dan tante2 saya, dan tentunya keikhlasan dari ybs, akhirnya saya mendapatkan perawat pribadi yang bertugas secara full time.
Tidak cukup satu, tapi satu lagi adik saya yang tadinya tinggal di bekasi, merelakan diri untuk bolak-balik, bekasi-jakarta-cikarang selama hampir setahun itu, untuk mensupport kami berdua, bahkan seringkali merelakan diri untuk menginap di RS untuk menemani atau menggantikan si bungsu.
Penting banget lho ini, sebab bagaimanapun adik saya itu kan anak bungsu yang belum pernah jauh dari orang tua. Tiba-tiba harus mengurus orang sakit di antah berantah ibu kota, pasti butuh support dan teman seperjuangan. Belum lagi urusan baju, urusan makan, dan lain-lain. Singkatnya, i was so lucky i had both of them with me.
Didampingi oleh orang yang mengerti soal kesehatan itu betul-betul sebuah 'kemewahan' dan kemudahan yang tiada taranya. Apalagi mengingat perjalanan mengejar diagnosis yang rumit dan nggak sampai-sampai itu.
Yang pertama terasa sekali adalah ketika masih didiagnosis TBC dan kemudian alergi rifampicin dan isoniazid, sehingga dokter terpaksa meresepkan obat lini ke dua, yaitu streptomicyn, yang harus disuntikkan tiap hari. Iya betul, tiap hari.
Waktu itu dokter kasih pengantar untuk mencari bidan atau mantri terdekat, supaya lebih mudah. Tapi itupun nggak kebayang ya, tiap sore harus mondar mandir ke tempat bidan atau dokter buat minta suntik. Lhawong jalan aja sudah hampir nggak sanggup.
Oh ya, waktu itu ternyata kondisi paru-paru sudah tinggal 1 saja yang berfungsi, paru sebelah kiri kolaps atau kempes total, sedangkan sebelah kanan terdesak jantung, makanya perasaan nggak karuan deh.
Nah, urusan suntik menyuntik ini akhirnya nggak jadi masalah karena saya nggak perlu jalan ke mana-mana untuk mencari bidan, kan bidannya sudah in the house. Waktu itu dokter paru saya yang lembut hati itu pun sampai ikut bahagia banget gitu waktu saya bilang bidannya sudah ada, tinggal kerja, kerja.. #eh
Yang berikutnya tentunya selama sebulan di RS. Bisa dibilang saya pasien yang mandiri banget dan jarang merepotkan suster yang sudah cukup repot merawat pasien yang kebanyakan sakit berat di ruangan berisi 5 orang itu. Bukan karena saya bisa ngapa-ngapain sendiri, tapi karena kalau mau ngapa-ngapain sudah ada yang membantu, yang sudah cekatan dan akrab dengan segala perlengkapan dan peralatan RS.
Punya pendamping yang lumayan aware soal kesehatan, membuat saya jadi lebih PD untuk ikut membuat keputusan dalam pengobatan. Misalnya ketika jadwal kemo yang tidak kunjung tiba, sedangkan paru-paru saya cepat sekali penuh terisi cairan. Waktu itu dokter paru menginstruksikan kepada perawat untuk mengeluarkan cairan paru sehari 1 liter. Awalnya 1 liter sehari itu nggak masalah buat saya, bahkan pernah lebih dari itu. Tapi lama-lama belum 1 liter dada saya sudah terasa seperti digencet gajah. Tulang punggung dan tulang rusuk nyerinya minta maaf.
Setelah 'protes' ke perawat, dan dijawab dengan 'perintah dokter 1 liter', akhirnya saya sendiri berinisiatif untuk menutup 'kran' pigtail (selang yang dipasang di punggung untuk mengeluarkan cairan paru), kalau sakitnya mulai nggak ketahan lagi. Dan ketika dokter paru berkunjung, saya pun protes lagi, yang akhirnya dikabulkan oleh Pak Dokter.
Satu lagi kejadian yang penting, yaitu ketika setelah mini kemo yang pertama, tanpa diketahui, paru-paru saya terkena infeksi. Awalnya kran pigtail yang setiap harinya mengeluarkan cairan tiba-tiba macet, malah cairannya bocor melalui jahitan (maap lho kalau TMI alias too much info, ini agak ngilu juga nulisnya sebetulnya).
Tadinya suspectnya adalah jahitan kendor, sehingga perlu dijahit ulang #ouch!. Tapi setelah dijahit ulang pun ternyata masih bocor. Tadinya dokter paru merencanakan untuk mengganti pigtail dengan selang yang lebih besar, dan tanpa kran. Maksudnya supaya meminimalisir kebocoran.
Tapi untungnya beliau membicarakan dulu dengan kami (saya dan adik), ditambah suster yang nantinya akan membantu proses penggantian selang. Beliau bahkan sudah bawa itu contoh selang dan kantongnya.
Saya waktu itu sudah pasrah aja, yang penting bagaimana bisa bernafas dan berjalan lagi dengan baik. Alhamdulillah adik saya masih berkepala dingin dan cukup cermat, sehingga mengingatkan dokter tentang kesakitan yang saya alami kalau cairannya dikeluarkan terlalu banyak. Dokter Paru
yang berdedikasi tinggi itu (sampai-sampai long weekend pun beliau tetep visit lho, keren kan.. ) terdiam sejenak, dan setelah mempertimbangkan, akhirnya setuju kalau keran tetap dibutuhkan.
Langkah yang diambil akhirnya, dari pigtail yang existing itu di-flush dengan bantuan spuit besar. Dari situ ketahuan kalau kebocoran adalah karena cairan yang tadinya bening berubah menjadi keruh dan kental, alias tanda-tanda infeksi. Dan sejak itu mulailah petualangan bersama Tripenem, antibiotik spektrum luas yang sehari bisa mencapai jutaan rupiah itu (huehue.. tetep ya.. itungannya rupiah).
Masih banyak sebetulnya kejadian yang mungkin bakalan rumit kalau saja caregiver saya nggak terlalu faham soal kesehatan. Yang jelas, dengan didampingi orang yang bisa diajak diskusi, saya sendiri juga jadi lebih PD dan lebih nyaman untuk menjalani, dan ikut memutuskan jalannya pengobatan.
Memang betul janji Allah, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.
Alhamdulillah..
Senin, 13 Februari 2017
Senin, 30 Januari 2017
Menjelang setahun
Waktu setahun itu ternyata cepat sekali ya berlalunya. Tahu-tahu sudah mau jadwal kontrol ke Prof Aru lagi.
Alhamdulillah sudah daftar untuk bulan depan, dan alhamdulillah dapat antrian no. 14.
Luar biasa sekali si om ini ya.. seperti antri tiket kereta api saja, masih sebulan sudah berderet.
Setahun ini sebetulnya banyaak.. sekali yang terjadi, tapi karena tidak pernah blogging lagi, sepertinya tidak ada apa-apa. Well.. tidak ada apa-apa yang bombastis sih. Dan seperti biasa, untuk seorang lulusan kemoterapi, no news is good news. Jadi, alhamdulillah..
Sebetulnya (lagi), pengen sering-sering blogging (lah, kenapa enggak?), terutama untuk merefresh rasa syukur yang selama setahun ini tentunya naik turun seiring dengan ingat atau enggaknya dengan hal-hal yang mestinya disyukuri.(note: mohon maaf kalau sesudah setahun ini gaya menulisnya nggak ada perbaikan, tetep ruwet dan nggak tunjepoin, hehe..)
Jadi, mari kita mulai dengan yang paling baru. Iya, sekitar 10 menit yang lalu.
Kejadiannya pas turun dari lantai 5 ke lantai 3. Sebetulnya sudah mau naik lift, tapi melihat lift posisinya masih turun dari lantai 4, akhirnya lewat tangga saja lah. Hitung-hitung olah raga.
Elakok.. di tangga menuju lantai 4, sempat-sempatnya terpeleset dengan manis.
Memang betul ya yang digambarkan di film-film itu, bahwa sepersekian detik kejadian itu rasanya bisa seperti lamaaa... sekali. Seperti slow motion begitu. Sudah pasrah bagaimana tadi akan mendaratnya. Alhamdulillah.. somehow sukses terlewat 4 anak tangga, tapi bisa langsung berdiri lagi dengan agak malu gitu deh *huehue*
Mungkin hasil kejadiannya secara jelas baru akan ketahuan besok, tapi mudah-mudahan sih nggak apa-apa selain agak pegal dan agak malu itu tadi.
Intinya, sebetulnya kalau mau menghitung-hitung nikmat yang diberikan Allah, nggak akan ada habisnya. Karena dihindarkan dari kejadian yang jauh lebih buruk (dan lebih memalukan) itu tadi saja sudah nikmat yang nggak terkira.
Belum lagi waktu yang setahun ini, yang dilalui tanpa harus ketemu Prof Aru, yang berarti masih sukses mempertahankan status sebagai anggota NED alias golongan penerima remisi.
Akhirul kalam, mohon doanya, semoga kontrol bulan depan statusnya tetap NED yaa..
Alhamdulillah sudah daftar untuk bulan depan, dan alhamdulillah dapat antrian no. 14.
Luar biasa sekali si om ini ya.. seperti antri tiket kereta api saja, masih sebulan sudah berderet.
Setahun ini sebetulnya banyaak.. sekali yang terjadi, tapi karena tidak pernah blogging lagi, sepertinya tidak ada apa-apa. Well.. tidak ada apa-apa yang bombastis sih. Dan seperti biasa, untuk seorang lulusan kemoterapi, no news is good news. Jadi, alhamdulillah..
Sebetulnya (lagi), pengen sering-sering blogging (lah, kenapa enggak?), terutama untuk merefresh rasa syukur yang selama setahun ini tentunya naik turun seiring dengan ingat atau enggaknya dengan hal-hal yang mestinya disyukuri.(note: mohon maaf kalau sesudah setahun ini gaya menulisnya nggak ada perbaikan, tetep ruwet dan nggak tunjepoin, hehe..)
Jadi, mari kita mulai dengan yang paling baru. Iya, sekitar 10 menit yang lalu.
Kejadiannya pas turun dari lantai 5 ke lantai 3. Sebetulnya sudah mau naik lift, tapi melihat lift posisinya masih turun dari lantai 4, akhirnya lewat tangga saja lah. Hitung-hitung olah raga.
Elakok.. di tangga menuju lantai 4, sempat-sempatnya terpeleset dengan manis.
Memang betul ya yang digambarkan di film-film itu, bahwa sepersekian detik kejadian itu rasanya bisa seperti lamaaa... sekali. Seperti slow motion begitu. Sudah pasrah bagaimana tadi akan mendaratnya. Alhamdulillah.. somehow sukses terlewat 4 anak tangga, tapi bisa langsung berdiri lagi dengan agak malu gitu deh *huehue*
Mungkin hasil kejadiannya secara jelas baru akan ketahuan besok, tapi mudah-mudahan sih nggak apa-apa selain agak pegal dan agak malu itu tadi.
Intinya, sebetulnya kalau mau menghitung-hitung nikmat yang diberikan Allah, nggak akan ada habisnya. Karena dihindarkan dari kejadian yang jauh lebih buruk (dan lebih memalukan) itu tadi saja sudah nikmat yang nggak terkira.
Belum lagi waktu yang setahun ini, yang dilalui tanpa harus ketemu Prof Aru, yang berarti masih sukses mempertahankan status sebagai anggota NED alias golongan penerima remisi.
Akhirul kalam, mohon doanya, semoga kontrol bulan depan statusnya tetap NED yaa..
Kamis, 20 Oktober 2016
Halo, ke mana aja?
Dulu sempet berniat bakal tetep rajin ngeblog walaupun sudah selesai terapi. Tapi apa daya, setengah tahun lebih lewat begitu saja.
Ternyata agak sulit mengambil 'tone' untuk menulis posting sesudah garis finish itu.
Sudah remisi, walaupun tanpa amnesti *apasih*, dan selesai terapi, jadi apa lagi?
Mungkin semacam krisis identitas begitu. Entry yang kemarin-kemarin isinya kan soal limfoma, sekarang soal apa ya?
Masih banyak sih sebenernya soal limfoma itu, soal apa yang terjadi sesudah terapi, bagaimana berurusan dengan efek samping, kecemasan2, kontrol rutin, dan lain sebagainya.
Tapi setiap ditulis, entah kenapa kok ujung2nya seperti mengeluh, akhirnya karena tidak sesuai dengan visi dan misi blog ini *halah*, yang mana adalah 'hadapi hidup dengan gembira', akhirnya nggak jadi deh.
Dan setelah membuat hampir 10 posting yang tetap berstatus 'draft', jadilah posting yang berstatus 'alasan' alias excuse ini :D
Tapi bener lho, susah ternyata untuk tetap excited setelah selesai terapi ini.
Oh bukan, bukan karena nggak bersyukur kok. Jangan dong.
Tentu bersyukur banget. I got away safely, despite all those things that went wrong. Not everybody got this lucky. Alhamdulillah..
Tapi dulu kan ngebayanginnya kalau dah selesai kemo, langsung bisa kembali ke kehidupan sebelumnya yang di-pause itu. Eh ternyata enggak semudah itu.
Nah kan, mulai terdengar seperti mengeluh kan? *nginjek rem*
Jadi intinya, setelah selesai terapi kemarin itu, Prof Aru memberikan pengantar untuk ke THT, ObGyn, dan spesialis jantung.
Sebetulnya yang paling mengganggu selama 3 tahun ini (selain limfoma tentunya), adalah radang tenggorokan, sinusitis, dan sakit perut, dan keletihan yang nggak bisa digambarkan *halah*. Flu sebulan aja rasanya lelah kan? Nah ini flu 3 tahun.
Dulu di tengah terapi sebetulnya dah sempat bolak balik ke THT, tapi dokternya malah takut batuk2nya karena limfoma, akhirnya 'dilemparkan' kembali ke dokter onkologi, yang waktu itu hanya memberi obat batuk sirup, obat anti alergi, dan 'perintah' untuk banyak-banyak sabar, karena selama masih mabthera, ya bakal gampang ketularan macem2..
Jadi setelah beres urusan kemo dan maintenance, dengan pengantar dari dokter onkologi, kembalilah ke dokter THT dengan membawa foto ronsen sinus. Yang difotonya dengan menempelkan wajah ke plat besi dengan posisi lurus, miring dan mendongak. Semacam mugshot tapi pake x-ray gitu, huehue.. Kali ini dengan penuh pengharapan untuk dapat mengakhiri serangan batuk pilek yang sangat bandel itu.
Kali ini kita ke Prof Helmi di salemba, sesuai rekomendasi beberapa teman yang udah sering ke sana.
Dokternya baik dan tampak kebapakan, memancarkan wibawa dan pengalaman yang luas dan mendalam *halah*
Waktu beliau tau kalau pasiennya habis terapi limfoma, prof malah bilang kalau nggak perlu terlalu khawatir, bahkan cerita kalau 2 orang rekannya sesama spesialis THT ada yang kena limfoma juga, tapi sekarang sudah sembuh dan praktek lagi. Maksudnya supaya tetep optimis gitu kali ya..
Trus, soal sinusitis dan radang tenggorokan, sepertinya karena efek kemo yang membuat daya tahan tubuh menurun dan hidung tenggorokan jadi oversensitif.
Obatnya? obat batuk biasa, obat anti alergi, dan bersabar.
Wah sepertinya kenal nih resep model begini.
Mungkin memang berobat itu memang resep wajibnya yang terakhir itu ya: sabar.
Dan ternyata tetep nggak bisa juga dapat resep yang ces pleng langsung bablas batuk pileknya.
Selain ke THT, sempat juga ke dokter kulit. Nah ini. Karena problematika dengan daya tahan tubuh ini jadinya gampang kena infeksi yang gak keren, yaitu kuku jari tangan jadi jamuran. Padahal perasaan gak jorok-jorok amat deh. Ya mungkin jorok, tapi ya gak amat lah.. :P
Dokter kulit waktu itu cuma kasih salep aja. Sebetulnya untuk infeksi jamur ada obat yang diminum juga, tapi karena waktu itu masih terapi, dokternya kasih obat yang minimal. Alhamdulillah cocok sih, tapi setiap kali hampir sembuh, tiba waktu terapi, kena mabthera lagi, imunitas ditekan lagi, dan jamurnya balik lagi deh.
Tapi setelah selesai terapi ini, alhamdulillah, berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan didorongkan keinginan luhur untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas *bletak*, ternyata berangsur2 jamurnya pergi sendiri. Mungkin setelah daya tahan tubuh mulai kembali lagi, si jamur yang bandel itu pun berhasil diusir dengan sukses.
Nah, jadi itu tadi beberapa kegiatan setelah terapi. Udah nggak heboh dan heroik lagi seperti yang dulu-dulu. Alhamdulillah.
Sebetulnya yang masih belum tercapai adalah mulai rutin berolah raga lagi. Nggak perlu sampai squat dan sit-up 100 kali, atau lari keliling kompleks sampai 6 puteran kayak jaman kejayaan dulu *pamer*, tapi setidaknya jalan pagi gitu.
Ini sulit karena jam tidur belum bisa diatur untuk kembali ke jadwal normal lagi.
Mudah2an dalam waktu dekat ini bisa ketemu lagi deh semangat dan tenaganya.
Sementara ini, seperti kata mas Rian demasip, mari kita nikmati apa yang ada, karena hidup adalah anugrah..
Selasa, 22 Maret 2016
Saat-saat kelulusan itu
Kamis muinggu lalu kontrol ke Prof AWS.
Oh ya, sejak beliau dikukuhkan sebagai propesor awal februari lalu, sekarang harus latihan menyebut 'Prof', bukan 'Dok' lagi *sekilas info*
Sebelum kontrol, tepatnya sebelum dapat hasil pet-scan sebetulnya sudah sempat membuat daftar pertanyaan, apa saja yang ingin ditanyakan dan diketahui, apalagi menjelang berakhirnya terapi ini kan berarti banyak hal yang akan berakhir juga, dan mungkin ada hal-hal baru yang perlu dilakukan.
Misalnya, kapan perlu kontrol, kapan perlu cek lab, kapan perlu laporan, apa saja yang perlu diwaspadai, apa saja yang perlu dihindari, apa yang perlu diantisipasi, apa efek samping yang bisa sembuh dan apa yang diikhlaskan saja, selain limfoma, apa yang harus diwaspadai, berapa besar kemungkinan balik lagi, atau muncul hal yang lain, gitu-gitu deh..
Tapi kemarin pas antri kebetulan dapat giliran agak malam, dan ndilalahnya beberapa orang yang antri sebelumnya itu kok ya para lansia, yang masih pada menjalani terapi. Beberapa harus dituntun ketika berjalan, atau malah harus pakai kursi roda. Mereka juga diantar rombongan anggota keluarga, yang sigap ke sana ke mari untuk mengurus ini itu.
Walaupun di antara orang-orang yang antri itu cuma saya yang terbatuk2 dengan dahsyatnya, tapi tiba-tiba kok rasanya saya nggak pa pa gitu, sehat wal afiat saja.
Teringat kalau saya dulu pernah juga berada di posisi seperti mereka.
Posisi pakai kursi roda dan jalan dituntun maksudnya, bukan posisi sebaga lansia-nya yaa.
Rasanya masih seperti kemarin, tapi rasanya juga sudah lamaaa.. sekali. Seperti mimpi gitu.
Dulu antri di tempat yang sama, tapi harus berbekal bantal, jaket tebal, dan berbagai peralatan tempur lainnya untuk memastikan bisa survive sampai tiba giliran konsul, sekarang saya datang sendiri sepulang kerja, lengkap dengan laptop dan peralatan tempur yang sama sekali berbeda.
Tiba-tiba jadi pengen nangis.
Bukan, bukan karena mereka diantar rame-rame dan saya sendirian.
Juga bukan karena mereka dapat giliran konsul duluan dan saya belakangan.
Tapi tiba-tiba saya kok merasa macam-macam, eh.. maksudnya macam-macam perasaan berkecamuk jadi satu gitu.
Antara merasa lelah, karena terbayang perjalanan yang sudah begitu jauh dan lama..
Tapi juga merasa lega, dan terharu (terharu sama diri sendiri gitu, huehue.. nggak banget yak) bahwa di sepanjang perjalanan ini begitu banyak kemajuan yang didapatkan.. I've came a long way and improved so much..
Dan rasa bersyukur yang buanyaaak.. banget, bahwa pada akhirnya berdasarkan selembar kertas hasil PET-Scan itu saya akan ganti status. Bukan status yang itu sih, sayangnya status yang itu belum berhasil berubah *lhoo.. kok malah curcol*
Karena sibuk dengan perasaan2 sendiri itu, ditambah perasaan satu lagi yang sulit dibendung, yaitu perasaan ngantuk, akhirnya pas dipanggil masuk ke ruangan semua pertanyaan yang udah ditulis dengan indah itu nggak keluar sama sekali. Lupa kalo udah bikin catetan.
Waktu itu cuma inget ngasih hasil PET-CT aja.
Om Propesor membaca dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, trus bilang begini "Catetannya banyak banget, tapi semua masalah yang banyak ini jadi nggak terlalu berarti dengan adanya bagian ini nih : tidak dijumpai relaps limfoma."
Ah iya.. bener banget.
Lalu nasib benjolan di lipatan paha itu?
"Ini memang kelenjar, tapi dari hasil PET-CT tidak terlihat aktifitas ekstra. Jadi kamu anggap aja ini kelenjar yang jinak, atau kalaupun limfoma, maka limfoma yang ini aktifitasnya pelan banget, sampai tidak terdeteksi oleh PET"
Lalu harus bagaimana?
"Seperti yang sudah-sudah, waspada saja. Periksa secara berkala, tidak hanya di pangkal paha, tapi juga leher, ketiak, dan lain-lain.
Dan cek darah setiap 3 bulan sekali."
Apa yang harus dilihat?
"Yang rutin-rutin aja, LDH, LED, Hb, karena biasanya kalau limfomanya bermasalah dua yang pertama naik, dan Hb turun."
Lalu catatan yang panjang itu?
"Untuk itu difollow-up ke dokter-dokter spesialis yang sesuai."
Lalu soal batuk ini gimana dong?
"Kamu sembuhin dulu sinusitisnya."
Caranya?
"Minum obat alergi, obat batuk seperlunya, dan mungkin perlu antibiotik. Tapi saya sih cenderung antibiotiknya nggak usah ya. Saya kasih pengantar foto sinus aja, lalu ke spesialis THT."
Ah, akhirnya.. tiba juga waktunya saya 'ditolak' sama om Prof AWS dan dikirim ke dokter lain..
Rasanya merdu banget ya.. *lebay*
Lalu jadwal kita ketemu lagi? (Kita? huehue..)
"Kalau kamu merasa ada yang nggak beres, atau ada yang ingin dikonsultasikan, datang aja kapan-kapan, tapi kalau enggak, sampai jumpa di tahun 2017 ya.."
Dan dengan ucapan perpisahan itu, ditambah berlembar2 pengantar lab untuk setahun ke depan, saya keluar dari ruangan konsultasi dengan status resmi NED alias remisi.
Alhamdulillaah...
Oh ya, sejak beliau dikukuhkan sebagai propesor awal februari lalu, sekarang harus latihan menyebut 'Prof', bukan 'Dok' lagi *sekilas info*
Sebelum kontrol, tepatnya sebelum dapat hasil pet-scan sebetulnya sudah sempat membuat daftar pertanyaan, apa saja yang ingin ditanyakan dan diketahui, apalagi menjelang berakhirnya terapi ini kan berarti banyak hal yang akan berakhir juga, dan mungkin ada hal-hal baru yang perlu dilakukan.
Misalnya, kapan perlu kontrol, kapan perlu cek lab, kapan perlu laporan, apa saja yang perlu diwaspadai, apa saja yang perlu dihindari, apa yang perlu diantisipasi, apa efek samping yang bisa sembuh dan apa yang diikhlaskan saja, selain limfoma, apa yang harus diwaspadai, berapa besar kemungkinan balik lagi, atau muncul hal yang lain, gitu-gitu deh..
Tapi kemarin pas antri kebetulan dapat giliran agak malam, dan ndilalahnya beberapa orang yang antri sebelumnya itu kok ya para lansia, yang masih pada menjalani terapi. Beberapa harus dituntun ketika berjalan, atau malah harus pakai kursi roda. Mereka juga diantar rombongan anggota keluarga, yang sigap ke sana ke mari untuk mengurus ini itu.
Walaupun di antara orang-orang yang antri itu cuma saya yang terbatuk2 dengan dahsyatnya, tapi tiba-tiba kok rasanya saya nggak pa pa gitu, sehat wal afiat saja.
Teringat kalau saya dulu pernah juga berada di posisi seperti mereka.
Posisi pakai kursi roda dan jalan dituntun maksudnya, bukan posisi sebaga lansia-nya yaa.
Rasanya masih seperti kemarin, tapi rasanya juga sudah lamaaa.. sekali. Seperti mimpi gitu.
Dulu antri di tempat yang sama, tapi harus berbekal bantal, jaket tebal, dan berbagai peralatan tempur lainnya untuk memastikan bisa survive sampai tiba giliran konsul, sekarang saya datang sendiri sepulang kerja, lengkap dengan laptop dan peralatan tempur yang sama sekali berbeda.
Tiba-tiba jadi pengen nangis.
Bukan, bukan karena mereka diantar rame-rame dan saya sendirian.
Juga bukan karena mereka dapat giliran konsul duluan dan saya belakangan.
Tapi tiba-tiba saya kok merasa macam-macam, eh.. maksudnya macam-macam perasaan berkecamuk jadi satu gitu.
Antara merasa lelah, karena terbayang perjalanan yang sudah begitu jauh dan lama..
Tapi juga merasa lega, dan terharu (terharu sama diri sendiri gitu, huehue.. nggak banget yak) bahwa di sepanjang perjalanan ini begitu banyak kemajuan yang didapatkan.. I've came a long way and improved so much..
Dan rasa bersyukur yang buanyaaak.. banget, bahwa pada akhirnya berdasarkan selembar kertas hasil PET-Scan itu saya akan ganti status. Bukan status yang itu sih, sayangnya status yang itu belum berhasil berubah *lhoo.. kok malah curcol*
Karena sibuk dengan perasaan2 sendiri itu, ditambah perasaan satu lagi yang sulit dibendung, yaitu perasaan ngantuk, akhirnya pas dipanggil masuk ke ruangan semua pertanyaan yang udah ditulis dengan indah itu nggak keluar sama sekali. Lupa kalo udah bikin catetan.
Waktu itu cuma inget ngasih hasil PET-CT aja.
Om Propesor membaca dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, trus bilang begini "Catetannya banyak banget, tapi semua masalah yang banyak ini jadi nggak terlalu berarti dengan adanya bagian ini nih : tidak dijumpai relaps limfoma."
Ah iya.. bener banget.
Lalu nasib benjolan di lipatan paha itu?
"Ini memang kelenjar, tapi dari hasil PET-CT tidak terlihat aktifitas ekstra. Jadi kamu anggap aja ini kelenjar yang jinak, atau kalaupun limfoma, maka limfoma yang ini aktifitasnya pelan banget, sampai tidak terdeteksi oleh PET"
Lalu harus bagaimana?
"Seperti yang sudah-sudah, waspada saja. Periksa secara berkala, tidak hanya di pangkal paha, tapi juga leher, ketiak, dan lain-lain.
Dan cek darah setiap 3 bulan sekali."
Apa yang harus dilihat?
"Yang rutin-rutin aja, LDH, LED, Hb, karena biasanya kalau limfomanya bermasalah dua yang pertama naik, dan Hb turun."
Lalu catatan yang panjang itu?
"Untuk itu difollow-up ke dokter-dokter spesialis yang sesuai."
Lalu soal batuk ini gimana dong?
"Kamu sembuhin dulu sinusitisnya."
Caranya?
"Minum obat alergi, obat batuk seperlunya, dan mungkin perlu antibiotik. Tapi saya sih cenderung antibiotiknya nggak usah ya. Saya kasih pengantar foto sinus aja, lalu ke spesialis THT."
Ah, akhirnya.. tiba juga waktunya saya 'ditolak' sama om Prof AWS dan dikirim ke dokter lain..
Rasanya merdu banget ya.. *lebay*
Lalu jadwal kita ketemu lagi? (Kita? huehue..)
"Kalau kamu merasa ada yang nggak beres, atau ada yang ingin dikonsultasikan, datang aja kapan-kapan, tapi kalau enggak, sampai jumpa di tahun 2017 ya.."
Dan dengan ucapan perpisahan itu, ditambah berlembar2 pengantar lab untuk setahun ke depan, saya keluar dari ruangan konsultasi dengan status resmi NED alias remisi.
Alhamdulillaah...
Rabu, 09 Maret 2016
My Finish Line
2 minggu yang lalu dapat 'surat cinta' dari bagian nuklir RSGP.
Isinya banyak, tapi intinya adalah : tidak dijumpai relaps limfoma.
Jadi teman-teman, Alhamdulillah wa syukurillah.. I'm officially in remission!!
Terima kasih untuk semua support dan doa selama ini.
It has been a long journey, and I'm glad you're all there to share the load.
Cerita soal pet-scan-nya nanti2 deh yaa..
Love you all :-*
Isinya banyak, tapi intinya adalah : tidak dijumpai relaps limfoma.
Jadi teman-teman, Alhamdulillah wa syukurillah.. I'm officially in remission!!
Terima kasih untuk semua support dan doa selama ini.
It has been a long journey, and I'm glad you're all there to share the load.
Cerita soal pet-scan-nya nanti2 deh yaa..
Love you all :-*
Selasa, 22 Desember 2015
Catatan akhir tahun (dan akhir terapi)
Alhamdulillah, akhirnya maintenance yang 2 tahun selesai juga tanggal 4 Desember kemarin.
Kalau mau dipas2in, menyelesaikan terapi maintenance adalah sebuah hadiah ulangtahun yang istimewa buat saya (walopun saya nggak ngerayain ulangtaun sih sebenernya).
3 tahun yang lalu pas tanggal2 segitu, pertama kalinya dapat diagnosis pleural effusion, dan baru mengawali proses pencarian diagnosis yang panjang dan lama itu.
Masih inget waktu itu jadwal sedot cairan untuk pertama kalinya sore hari, dan siangnya karena nggak sanggup ngantor (perasaan nggak karuan gara-gara punggung mau dibolongin), akhirnya ngelayap ke mall untuk beli 3 pasang (!!) sepatu *tutup muka* sebagai hadiah ulangtahun untuk diri sendiri. Haha.. agak nggak nyambung ya?
Yah, begitulah.. kehidupan ini ternyata adalah rangkaian dari berjuta-juta ketidaknyambungan yang disambungkan oleh sebuah garis bernama usia *heleh.. udah minum obat belum mbak?*
Eeniwey..nggak terasa tau-tau sekarang sudah 3 tahun, sudah melewati kemo dan maintenance dengan segala rupa dan warna yang menyertainya.
Seperti waktu selesai kemo dua tahun yang lalu, saat ini adalah masa-masa kegamangan. Pertanyaan yang pasti muncul adalah, setelah ini lalu apa?
Setelah semua ini, apakah sudah selesai?
Apalagi, seperti waktu selesai kemo dulu, selalu ada catatan yang membuat dokter nggak rela memberikan stempel kelulusan secara penuh. Kalau dulu masih ada soal jantung, soal sisa benjolan, soal LED dan LDH, maka kali ini pun si LDH dan kelenjar yang suka bertingkah itu masih saja genit dan cari perhatian.
Tapi nggak apalah, kita kembali ke prinsip semula saja, yaitu jalani satu persatu. Syukuri setiap hal yang terjadi, termasuk keberhasilan melalui proses maintenance yang 2 tahun ini. Sebab menyelesaikan terapi maintenance berarti sukses menjalani 2 tahun ini dalam keadaan hidup dan sehat.
Kesannya pesimis banget ya masang targetnya?
Bukan, bukan pesimis, tapi justru menghargai betul-betul apa yang sudah dijalani dan didapatkan selama 3 tahun ini, terlebih kalau mengingat percakapan ini.
Satu hal yang akhirnya berhasil saya lakukan, yang mestinya dilakukan sejak awal sih ya.. yaitu membuat rekap riwayat terapi dan pengobatan yang dijalani selama ini, termasuk test yang dilakukan, seperti lab dan scan.
Ini sebetulnya cita-citata saya dari masih kemo dulu, cuma entah kenapa setiap selesai terapi pengennya melupakan semua yang berhubungan sama rumah sakit, sampai datang waktu kontrol berikutnya. Agak traumatis gitu liat berkas2 medis yang banyak banget itu *apalagi liat berkas tagihannya* ..
Akhirnya yang dibawa pas kontrol ya berkas2 aslinya aja, itupun hanya beberapa yang terakhir, karena saking banyaknya.
Padahal sebetulnya kalau kita punya, rangkuman ini bisa sangat membantu dokter mengambil kesimpulan dan keputusan ketika kita konsul. Dokter nggak perlu membolak balik klipingan rekam medis yang sekarang sudah setebal 15 cm itu.
Tapi nggak pa pa lah ya, kan kata pepatah : lebih baik terlambat daripada nggak masuk kelas :P
Hal lainnya, mungkin saya bisa kembali menekan tombol 'play' dan menjalani kehidupan dengan normal seperti.. hmm.. seperti..
On second thought, sebetulnya selama ini pun saya sudah menjalani kehidupan dengan normal kok. Normal menurut saya tentunya. Menurut kemampuan saya.
Dan menyelesaikan terapi, meskipun sangat amat sangat amat melegakan, tapi juga sebuah moment yang mendebarkan. Karena sesudah ini ada evaluasi, lalu kalau lulus, maka mulailah ujian yang sebenarnya, yaitu menjalani kehidupan tanpa terapi. Ibarat orang yang latihan naik sepeda, ini saatnya roda bantu yang kecil2 itu dilepas, dan kemudian akan terlihat apakah memang sudah mampu berdiri eh berjalan dengan dua roda utama saja, tanpa penopang tambahan.
Dua penopang utama itu mungkin, doa dan tawakkal kali ya.. menyerahkan semua ikhtiar yang sudah dilakukan selama ini, kepada Allah, sambil terus berdoa, dan minta didoakan juga tentunya, seperti yang sudah-sudah..
Jadi, doakan aku yaaa...
Kalau mau dipas2in, menyelesaikan terapi maintenance adalah sebuah hadiah ulangtahun yang istimewa buat saya (walopun saya nggak ngerayain ulangtaun sih sebenernya).
3 tahun yang lalu pas tanggal2 segitu, pertama kalinya dapat diagnosis pleural effusion, dan baru mengawali proses pencarian diagnosis yang panjang dan lama itu.
Masih inget waktu itu jadwal sedot cairan untuk pertama kalinya sore hari, dan siangnya karena nggak sanggup ngantor (perasaan nggak karuan gara-gara punggung mau dibolongin), akhirnya ngelayap ke mall untuk beli 3 pasang (!!) sepatu *tutup muka* sebagai hadiah ulangtahun untuk diri sendiri. Haha.. agak nggak nyambung ya?
Yah, begitulah.. kehidupan ini ternyata adalah rangkaian dari berjuta-juta ketidaknyambungan yang disambungkan oleh sebuah garis bernama usia *heleh.. udah minum obat belum mbak?*
Eeniwey..
Seperti waktu selesai kemo dua tahun yang lalu, saat ini adalah masa-masa kegamangan. Pertanyaan yang pasti muncul adalah, setelah ini lalu apa?
Setelah semua ini, apakah sudah selesai?
Apalagi, seperti waktu selesai kemo dulu, selalu ada catatan yang membuat dokter nggak rela memberikan stempel kelulusan secara penuh. Kalau dulu masih ada soal jantung, soal sisa benjolan, soal LED dan LDH, maka kali ini pun si LDH dan kelenjar yang suka bertingkah itu masih saja genit dan cari perhatian.
Tapi nggak apalah, kita kembali ke prinsip semula saja, yaitu jalani satu persatu. Syukuri setiap hal yang terjadi, termasuk keberhasilan melalui proses maintenance yang 2 tahun ini. Sebab menyelesaikan terapi maintenance berarti sukses menjalani 2 tahun ini dalam keadaan hidup dan sehat.
Kesannya pesimis banget ya masang targetnya?
Bukan, bukan pesimis, tapi justru menghargai betul-betul apa yang sudah dijalani dan didapatkan selama 3 tahun ini, terlebih kalau mengingat percakapan ini.
Satu hal yang akhirnya berhasil saya lakukan, yang mestinya dilakukan sejak awal sih ya.. yaitu membuat rekap riwayat terapi dan pengobatan yang dijalani selama ini, termasuk test yang dilakukan, seperti lab dan scan.
Ini sebetulnya cita-citata saya dari masih kemo dulu, cuma entah kenapa setiap selesai terapi pengennya melupakan semua yang berhubungan sama rumah sakit, sampai datang waktu kontrol berikutnya. Agak traumatis gitu liat berkas2 medis yang banyak banget itu *apalagi liat berkas tagihannya* ..
Akhirnya yang dibawa pas kontrol ya berkas2 aslinya aja, itupun hanya beberapa yang terakhir, karena saking banyaknya.
Padahal sebetulnya kalau kita punya, rangkuman ini bisa sangat membantu dokter mengambil kesimpulan dan keputusan ketika kita konsul. Dokter nggak perlu membolak balik klipingan rekam medis yang sekarang sudah setebal 15 cm itu.
Tapi nggak pa pa lah ya, kan kata pepatah : lebih baik terlambat daripada nggak masuk kelas :P
Hal lainnya, mungkin saya bisa kembali menekan tombol 'play' dan menjalani kehidupan dengan normal seperti.. hmm.. seperti..
On second thought, sebetulnya selama ini pun saya sudah menjalani kehidupan dengan normal kok. Normal menurut saya tentunya. Menurut kemampuan saya.
Dan menyelesaikan terapi, meskipun sangat amat sangat amat melegakan, tapi juga sebuah moment yang mendebarkan. Karena sesudah ini ada evaluasi, lalu kalau lulus, maka mulailah ujian yang sebenarnya, yaitu menjalani kehidupan tanpa terapi. Ibarat orang yang latihan naik sepeda, ini saatnya roda bantu yang kecil2 itu dilepas, dan kemudian akan terlihat apakah memang sudah mampu berdiri eh berjalan dengan dua roda utama saja, tanpa penopang tambahan.
Dua penopang utama itu mungkin, doa dan tawakkal kali ya.. menyerahkan semua ikhtiar yang sudah dilakukan selama ini, kepada Allah, sambil terus berdoa, dan minta didoakan juga tentunya, seperti yang sudah-sudah..
Jadi, doakan aku yaaa...
Selasa, 17 November 2015
Biar Allah yang Lengkapi Kisahnya
Sudah agak lama nggak update blog ya ternyata.
Kebetulan belum ada update apa-apa juga, mengingat waktunya kontrol dan terapi masih minggu depan. Dan kebetulan juga kegiatan di kantor sudah mulai full speed nih menjelang awal desember.
Kalau mengikuti rumus no news is a good news, maka mestinya it's been good ya. Mudah-mudahan.
Soalnya awal bulan ini harusnya cek darah, tapi males, jadi sekalian aja akhir bulan nanti untuk kontrol pre-terapi.
Iya nih, bandel banget ya.. Tapi bentar lagi sudah jadwal kontrol kok, nah yang ini nggak akan males deh *mudah-mudahan*
Lagipula, terapi yang akan datang ini insyaAllah akan jadi yang terakhir dari paket maintenance 2 tahunan. Doakan aku, semoga lulus sehat sentosa yaa..
Belum tau sih, nanti sesudah ini apa program selanjutnya. Tapi yang jelas akan ada Pet-Scan untuk evaluasi hasil terapi sekaligus cek tahunan. Dari situ baru akan ditentukan apa langkah yang perlu dilakukan ke depannya. Untuk sementara ini yang jelas banyak-banyak berdoa aja.
Dua bulan lalu kebetulan waktu yang cukup berat secara emosional, mengingat insiden benjolan yang sampai sekarang masih misteri itu. Bertepatan dengan itu, dua orang teman seperjuangan terpaksa harus kembali menjalani kemoterapi karena ternyata limfomanya kembali lagi.
Oh ya, waktu terapi yang kemarin, akhirnya sempat bertemu secara langsung dengan salah satunya, karena kebetulan kami check-in di RS yang sama di waktu yang sama.
Satu hal yang bisa saya katakan soal mereka adalah, mereka ini orang yang amat sangat hebat sekali.
Tetap tegar, bersemangat, dan luar biasa proaktif dalam hal mempelajari dan menjalani pengobatan (Mas dan Mbak, doa kami selalu untuk kalian sekeluarga, terima kasih sudah menginspirasi untuk tetap hopeful apapun keadaannya. Semoga lancar terus ya kemo-nya, sehat pulih 100%) . Kebetulan (nggak betul juga sih sebenernya), jenis limfomanya adalah termasuk sangat sulit dideteksi, karena berada di usus.
Banyak sekali yang kami bicarakan waktu itu, salah satunya soal sulitnya mendapatkan diagnosis yang tepat. Karena memang limfoma ini adalah salah satu penyakit yang bermuka banyak alias gejalanya tidak spesifik, dan seringkali mirip dengan penyakit lain. Misalnya saya yang di diagnosis TBC, atau teman saya ini yang sempat divonis batu empedu. Terlebih lagi pengetahuan atau awareness mengenai limfoma ini juga relatif masih rendah sekali di Indonesia.
Hal lain yang sempat kami sama-sama bicarakan adalah soal tidak sederhananya proses setelah mendapatkan diagnosis itu, yaitu menentukan jenis pengobatan. Kebetulan kami ditangani oleh dokter hematologi onkologi yang berbeda, dan ternyata kedua dokter senior ini memiliki strategi yang berbeda dalam penanganan limfoma. Bisa jadi juga karena memang penyakitnya tidak 100% sama, dan kondisi masing-masing pasien juga tidak sama, sehingga kami menjalani prosedur yang berbeda.
Tapi yang jelas, dari ngobrol-ngobrol, baca-baca, dan dari pengalaman, yang namanya pengobatan medis, terutama untuk kanker, itu memang banyak unsur 'art'-nya. Maksudnya ya.. tidak ada yang eksak "jika A maka B". Karena bagian "jika A"-nya saja belum tentu true. Nah loh malah gak jelas.. huehue..
Maksudnya adalah, tidak ada kasus yang 100% sama. Dari sisi penyakit, dari sisi kondisi pasien, dari sisi respon pasien terhadap terapi, dan dari sisi dokternya sendiri. Sehingga 'jalan cerita' terapinya pun kemungkinan nggak akan sama.
Dan ternyata, dalam menjalani kanker beserta segala petualangannya ini, selain doa dan ikhtiar ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu tawakkal, alias berserah diri kepada Allah. Ketika kita sudah berdoa, sudah memutuskan, sudah berusaha dan menjalani pengobatan, suatu saat kita mungkin akan dihadapkan pada hal-hal yang membuat kita mempertanyakan lagi semua yang sudah kita lakukan.
Apalagi kalau ketemu dengan rekan seperjuangan dan bertukar pengalaman, pasti ada pertanyaan-pertanyaan semacam "kok dia disuruh begitu aku disuruh begini ya kemarin?", "kok dia kena efek begini aku kena efek begitu?" dan lain sebagainya.
It's a challenging thought in itself.
Dan ini masih ngomong soal medis aja lho, belum lagi kalau sudah soal pengobatan alternatif. Akan sering kita dengar orang (dan mungkin diri kita sendiri) mempertanyakan kok nggak ini, kok nggak coba ke sana, kok nggak itu, dan seterusnya.
Oh ya, dan ini belum bicara soal 'pakai bpjs atau enggak'. It will be another long long long story and (possibly) argument.
Yang bertanya maksudnya pasti baik sih, tapi diri kita sendiri mungkin sedikit banyak akan merasa ragu dan tidak puas dengan apa yang sudah kita lakukan, bahkan mungkin ada rasa menyesal kenapa dulu begini begitu.
Makanya Allah sudah kasih kita resep, kalau sudah memutuskan, sudah ikhtiar dan berdoa, selanjutnya ya berserah diri sama Allah. menyerahkan keputusan, ikhtiar dan doa kita di Tangan Allah. Kita sudah menulis kisah kita, maka Allah yang akan melengkapi dengan takdir-Nya.
Itu teorinya, gampang ya nulisnya, tapi prakteknya.. ternyata kok susah yaaa..
Kebetulan belum ada update apa-apa juga, mengingat waktunya kontrol dan terapi masih minggu depan. Dan kebetulan juga kegiatan di kantor sudah mulai full speed nih menjelang awal desember.
Kalau mengikuti rumus no news is a good news, maka mestinya it's been good ya. Mudah-mudahan.
Soalnya awal bulan ini harusnya cek darah, tapi males, jadi sekalian aja akhir bulan nanti untuk kontrol pre-terapi.
Iya nih, bandel banget ya.. Tapi bentar lagi sudah jadwal kontrol kok, nah yang ini nggak akan males deh *mudah-mudahan*
Lagipula, terapi yang akan datang ini insyaAllah akan jadi yang terakhir dari paket maintenance 2 tahunan. Doakan aku, semoga lulus sehat sentosa yaa..
Belum tau sih, nanti sesudah ini apa program selanjutnya. Tapi yang jelas akan ada Pet-Scan untuk evaluasi hasil terapi sekaligus cek tahunan. Dari situ baru akan ditentukan apa langkah yang perlu dilakukan ke depannya. Untuk sementara ini yang jelas banyak-banyak berdoa aja.
Dua bulan lalu kebetulan waktu yang cukup berat secara emosional, mengingat insiden benjolan yang sampai sekarang masih misteri itu. Bertepatan dengan itu, dua orang teman seperjuangan terpaksa harus kembali menjalani kemoterapi karena ternyata limfomanya kembali lagi.
Oh ya, waktu terapi yang kemarin, akhirnya sempat bertemu secara langsung dengan salah satunya, karena kebetulan kami check-in di RS yang sama di waktu yang sama.
Satu hal yang bisa saya katakan soal mereka adalah, mereka ini orang yang amat sangat hebat sekali.
Tetap tegar, bersemangat, dan luar biasa proaktif dalam hal mempelajari dan menjalani pengobatan (Mas dan Mbak, doa kami selalu untuk kalian sekeluarga, terima kasih sudah menginspirasi untuk tetap hopeful apapun keadaannya. Semoga lancar terus ya kemo-nya, sehat pulih 100%) . Kebetulan (nggak betul juga sih sebenernya), jenis limfomanya adalah termasuk sangat sulit dideteksi, karena berada di usus.
Banyak sekali yang kami bicarakan waktu itu, salah satunya soal sulitnya mendapatkan diagnosis yang tepat. Karena memang limfoma ini adalah salah satu penyakit yang bermuka banyak alias gejalanya tidak spesifik, dan seringkali mirip dengan penyakit lain. Misalnya saya yang di diagnosis TBC, atau teman saya ini yang sempat divonis batu empedu. Terlebih lagi pengetahuan atau awareness mengenai limfoma ini juga relatif masih rendah sekali di Indonesia.
Hal lain yang sempat kami sama-sama bicarakan adalah soal tidak sederhananya proses setelah mendapatkan diagnosis itu, yaitu menentukan jenis pengobatan. Kebetulan kami ditangani oleh dokter hematologi onkologi yang berbeda, dan ternyata kedua dokter senior ini memiliki strategi yang berbeda dalam penanganan limfoma. Bisa jadi juga karena memang penyakitnya tidak 100% sama, dan kondisi masing-masing pasien juga tidak sama, sehingga kami menjalani prosedur yang berbeda.
Tapi yang jelas, dari ngobrol-ngobrol, baca-baca, dan dari pengalaman, yang namanya pengobatan medis, terutama untuk kanker, itu memang banyak unsur 'art'-nya. Maksudnya ya.. tidak ada yang eksak "jika A maka B". Karena bagian "jika A"-nya saja belum tentu true. Nah loh malah gak jelas.. huehue..
Maksudnya adalah, tidak ada kasus yang 100% sama. Dari sisi penyakit, dari sisi kondisi pasien, dari sisi respon pasien terhadap terapi, dan dari sisi dokternya sendiri. Sehingga 'jalan cerita' terapinya pun kemungkinan nggak akan sama.
Dan ternyata, dalam menjalani kanker beserta segala petualangannya ini, selain doa dan ikhtiar ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu tawakkal, alias berserah diri kepada Allah. Ketika kita sudah berdoa, sudah memutuskan, sudah berusaha dan menjalani pengobatan, suatu saat kita mungkin akan dihadapkan pada hal-hal yang membuat kita mempertanyakan lagi semua yang sudah kita lakukan.
Apalagi kalau ketemu dengan rekan seperjuangan dan bertukar pengalaman, pasti ada pertanyaan-pertanyaan semacam "kok dia disuruh begitu aku disuruh begini ya kemarin?", "kok dia kena efek begini aku kena efek begitu?" dan lain sebagainya.
It's a challenging thought in itself.
Dan ini masih ngomong soal medis aja lho, belum lagi kalau sudah soal pengobatan alternatif. Akan sering kita dengar orang (dan mungkin diri kita sendiri) mempertanyakan kok nggak ini, kok nggak coba ke sana, kok nggak itu, dan seterusnya.
Oh ya, dan ini belum bicara soal 'pakai bpjs atau enggak'. It will be another long long long story and (possibly) argument.
Yang bertanya maksudnya pasti baik sih, tapi diri kita sendiri mungkin sedikit banyak akan merasa ragu dan tidak puas dengan apa yang sudah kita lakukan, bahkan mungkin ada rasa menyesal kenapa dulu begini begitu.
Makanya Allah sudah kasih kita resep, kalau sudah memutuskan, sudah ikhtiar dan berdoa, selanjutnya ya berserah diri sama Allah. menyerahkan keputusan, ikhtiar dan doa kita di Tangan Allah. Kita sudah menulis kisah kita, maka Allah yang akan melengkapi dengan takdir-Nya.
Itu teorinya, gampang ya nulisnya, tapi prakteknya.. ternyata kok susah yaaa..
Langganan:
Postingan (Atom)


