Kamis, 26 Februari 2015

Ketika "Bagaimana" mengalahkan "Kenapa"


Untuk orang yang tiba-tiba didiagnosis kanker (nggak tiba-tiba juga sih, wong nyarinya aja sampe berbulan2), mungkin pertanyaan yang paling menggoda untuk diajukan adalah kenapa, why, mengapa oh mengapa?
Bukan why me, tapi lebih ke kenapa bisa sampai kena kanker?
Apa penyebabnya?

Dan memang, itulah pada akhirnya salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang ketika menjenguk. (disamping kenapa kemo, kenapa operasi, kenapa nggak kesini, kenapa nggak ke situ, dan kenapa-kenapa yang lainnya).

Tapi ketahuilah sodara-sodaraku yang tercinta, bahwa sampai sekarang pun belum ada penelitian yang menemukan dan membuktikan dengan sohih, apa sebenarnya penyebab kanker ini.

Ada sih, beberapa kanker yang kemungkinan penyebabnya sudah diyakini, dan ditunjukkan juga dengan hasil penelitian, seperti misalnya hubungan erat kanker paru-paru dan rokok. Atau salah satu jenis lymphoma, yaitu Burkitt's Lymphoma versi endemik yang diduga kuat berhubungan dengan infeksi virus Epstein Barr (nah lho, keren kan, udah kayak omongannya Dr House belum nih, haha).

Akan tetapi kebanyakan jenis kanker (dan jenis kanker itu ada buanyaak.. bingits), belum diketahui penyebabnya sampai sekarang.

For me, alhamdulillah dari awal bu dokter onkologi paru yang pertama kali mendiagnosis kanker sudah menekankan bahwa : ini bukan karena gaya hidup.
Mungkin karena beliau ngeliat saya hidupnya nggak ada gaya-gayanya sama sekali waktu itu ya, huehue..

Tapi bener lho, kalau dipikir-pikir lagi, alangkah bijaksananya bu dokter ketika itu, yang pesan pertamanya setelah diagnosis awal itu adalah, bahwa kanker atau tumor yang di mediastinum ini (waktu itu masih belum jelas antara limfoma, tymoma atau jenis tumor lain), bukanlah karena gaya hidup.
Karena pesan bu dokter menjadi bekal saya di hari-hari selanjutnya yang makin berat dan menghimpit itu *taelah*

Kalau tidak karena pesan bu dokter, mungkin akan kumat narsis dan masochist saya, dan dengan ge-er-nya akan merasa bahwa saya sendirilah yang telah menyebabkan timbulnya kanker ini.
Oh, that thought crossed my mind sometimes, terlebih di saat lagi lelah-lelahnya kemo dan perasaan down, tapi kalau dokter aja udah bilang begitu, kenapa saya harus sok ge er?

Toh menurut para ahli pun, penyebab DLBCL alias diffuse large b cell lymphoma belum diketahui.

Lho tapi itu katanya junk food, begadang, polusi, alkohol, gaya hidup nggak sehat, itu menyebabkan kanker?

Lebih tepatnya sih bukan penyebab, tapi meningkatkan resiko terkena kanker.

Ibaratnya begini, orang yang naik kendaraan di jalan raya, memiliki resiko ketabrak motor/mobil/bus/truk lebih besar dibanding yang tinggal di rumah saja. Tapi apa pasti semua yang naik kendaraan akan kecelakaan?
Ya belum tentu.
Lalu kalau di rumah, apa ya mungkin ketabrak bus/truk/motor/mobil?
Bisa saja, kalo bisnya nyelonong nabrak rumah.

Dan bagi pengguna jalan, orang yang nyupirnya ugal-ugalan, suka ngebut, tentunya resiko kecelakaannya akan lebih besar dibanding yang enggak. Tapi apa semua yang suka ngebut akan kecelakaan? Tentu tidak.

Dan apakah yang tertib dan mengendara dengan baik sudah pasti nggak kecelakaan? Belum tentu juga.
Ada faktor lain di luar itu, seperti pengendara lain, jalan rusak, cuaca buruk, lampu jalan kurang terang, dan lain-lain. Faktor x, y, z, dan seterusnya.

Jadi, kalo dibalik, apakah semua orang yang kecelakaan lalu lintas itu pasti nyetirnya sembarangan? Belum tentu.

Demikian juga dengan kanker. Ada yang gaya hidupnya acak-acakan, tapi toh sampai tua nggak pernah kena kanker. Ada juga yang sehat, macam atlet dan orang-orang yang menjaga makannya dan hobi olahraga, toh kena kanker juga.
Pada akhirnya, yang menentukan kita kena atau tidak kena kanker itu adalah sesuatu yang kita nggak tau. It just happened.

Yang bisa dilakukan orang yang belum kena kanker, ya meminimalisir faktor resiko.
Yang bisa dilakukan orang yang sudah kena kanker, ya berobat.

Intinya, nggak ada gunanya pertanyaan "kenapa bisa kena" itu.
Karena ada pertanyaan yang lebih penting lagi, yaitu : bagaimana.
Bagaimana cara untuk melawannya. Meminimalisir, bahkan jika memungkinkan, tentunya menghilangkan sama sekali kanker yang kadung datang dan bercokol itu.

So please teman-teman yang sudah kadung sakit, stop blaming yourself for it. Let's just say we're the unlucky ones, and let's get on with the how.
This is a disease that we don't need to look back to find the reason.
Just look forward and be hopeful, that what we do today will bring us back to health.

And for everyone else, please, stop ask us why.
Because we don't have the answer.

Senin, 16 Februari 2015

Bagaimana mencerna informasi kanker di internet dengan sehat?

Satu dari banyak hal yang saya pelajari setelah sakit ini adalah (despite the diet I ought to follow) : we should take things said in the media with a pinch of salt.
Bukan hanya media yang nggak jelas otoritasnya, tapi juga yang sudah ternama, bahkan jika pun sudah disertai dengan 'pendapat para ahli'.
Apalagi sosial media, yang siapa saja boleh ngomong apa saja, share apa aja, dan komen apa aja, mungkin salt-nya nggak lagi a pinch tapi a handful. Asin, asin dah tuh.

In the world of cancer, one of the most mystified topic in medicine, you will easily find so many articles that sometimes seems too good to be true. And most of the time it is too good to be true.
Dan memang sebagai salah satu penyakit yang disebut paling mengerikan di dunia, paling mahal, serem, mematikan, dan lain-lain yang jelek-jelek, maka kanker adalah juga sebuah komoditi yang paling gampang 'dijual' sensasinya.

Artikel yang judulnya ada kanker-nya, akan mudah menarik perhatian, dan menuai share dan like. Apalagi kalau dibumbui dengan kata-kata yang bombastis semacam 'konspirasi dibalik obat kanker' atau 'mengobati kanker itu mudah', atau 'banyak belanja menyebabkan kanker' (iya sih, kanker = kantong kering). Atau ini nih, yang sempat lumayan banyak berseliweran di timeline : "Jengkol, obat kanker yang 1000x lebih kuat dari kemoterapi". Pasti sudah pernah liat kan? Atau malah pernah ikut nge-share, buat lucu2an barangkali?

Well, sebagai seorang yang hobinya surfing internet, dari dulu memang nggak pernah terlalu percaya sama yang begituan. Jadi kalau liat berita2 macam itu di internet, reaksi pertama adalah kroscek lagi ke internet. Atau kalau males (ini sih seringnya, males) ya diabaikan saja. Lagipula kan kanker itu sesuatu yang nggak terlalu urgent buat saya waktu itu, sesuatu yang -meminjam istilah yang lagi beken akhir2 ini- : bukan urusan saya.

Tapi lalu terjadilah yang telah terjadi itu, dan tiba-tiba, mm.. nggak tiba-tiba juga sih, kanker menjadi urusan saya banget. Urusan saya satu-satunya malah waktu itu.
Dan seperti yang pernah saya bilang, mekanisme pertahanan diri saya salah satunya adalah surfing (di internet tentunya), mencari informasi sebanyak yang saya bisa mengenai hal-hal yang saya takuti dan tidak saya fahami.

Reaksi dan pilihan masing-masing orang ketika dihadapkan pada suatu masalah sudah pasti berbeda. Tidak terkecuali untuk urusan penyakit. Ada orang yang justru takut mengetahui terlalu banyak soal penyakitnya, soal obat yang diminum dan efek sampingnya, soal kemungkinan sembuh atau tidaknya.

Dan itu sangat bisa difahami.

Ketika kita sakit, begitu banyak hal yang harus difikirkan, dikhawatirkan, mulai dari keluarga, pekerjaan, kemana harus berobat, pilih dokter yang mana, rumah sakit yang mana, pengobatan cara apa, medis atau alternatif, bahkan sebelum semua itu, menemukan apa penyakitnya pun kadang bukan perkara mudah. Dan itu semua harus dijalani dalam kondisi badan dan pikiran yang nggak jelas bentuknya. 
Jadi informasi tambahan yang macam-macam dan belum tentu sesuai dengan kondisi kita itu bisa jadi malah membuat makin terpuruk karena takut dan pesimis.

Tapi ada juga orang-orang yang justru lebih tenang kalau dibekali dengan banyak informasi. Lebih mantap berobat jika tahu apa sakitnya, apa obat yang dikonsumsi, apa kemungkinan efek sampingnya. Bahkan jika informasi yang didapat itu mungkin menakutkan.

Mungkin ibarat orang yang sendirian di rumah kosong yang gelap, semacam uji nyali gitu, lalu dia dihadapkan pada dua pilihan : cahaya lilin yang remang2, atau tutup mata saja, tanpa cahaya sama sekali.
Ada yang lebih berani dengan cahaya lilin yang remang-remang, tapi juga ada yang justru lebih memilih tutup mata saja, karena cahaya lilin yang remang itu justru memberi kesan yang lebih angker, dengan bayangan yang bergoyang2 seperti kelebatan2 penampakan.

Nah, tadi mau ngomong apa ya, kok jadi ngomongin uji nyali..

Oh iya, pinch of salt.

Jadi, waktu pertama mulai terasa sakit agak berat itu sebenernya sudah mulai browsing gila-gilaan. Setiap dapat hasil lab, hasil rontgen, hasil ct-scan, dapat resep, dapat diagnosis sementara, yang tentunya penuh dengan istilah yang asing dan baru, langsung cari di internet : benda apakah ini?

Dan memang iya sih, browsing2 gaya bebas begitu bisa jadi pengalaman yang mengerikan, apalagi kalau nggak mempersiapkan mental dulu sebelumnya.

Masih inget dulu salah satu istilah yang pertama dicari : Efusi pleura.
Pas baca itu kebetulan sedang di angkot menuju ke kantor, soalnya ambil hasil x-ray pagi-pagi sekalian ke lab yang kedua kalinya waktu itu. Sekitar seabad atau dua abad yang lalu lah.. (hiperbolik)
Trus karena nggak ada kerjaan di angkot itu (iya lah nggak ada kerjaan, wong saya bukan supir dan bukan kenek), dan juga karena penasaran, akhirnya browsing di hp. Langsung deh pengen nangis setelah tau apa itu, apa kemungkinan penyebabnya, dan bagaimana tindakan medisnya.
Segala rancangan data model yang mestinya dipikirin buat ntar di kantor langsung buyar nggak ada bekasnya. Data model? Apaan tuh? Pleural effusion nih.. :((

Oh ya sodara-sodara, sejak 2 bulan sebelum divonis tbc oleh dokter itu saya sempet mendiagnosis diri sendiri dengan bantuan internet, dan hasilnya memang cukup membuat gentar juga.. Dengan berdasarkan gejala-gejala yang dirasakan, dapet lah tuh dua kemungkinan : tbc atau limfoma.

Nah, ini sebenernya contoh yang sama sekali nggak disarankan ya.. istilah bule-nya "Please don't do this at home". Karena mendiagnosis diri sendiri pakai internet (apalagi pakai dukun, a total no no.. musyrik soalnya *heheh*) itu sok tahu dan berbahaya banget, apalagi kalau lalu kita pakai hasil diagnosis itu untuk mengobati diri sendiri. Ya kalo pas, kalo nggak pas kan gawat tuh.

Waktu itu nggak berani terlalu ge-er dan terlalu parno untuk mengira kena limfoma alias kanker walaupun gejalanya persis sama. Karena gejala limfoma, terutama yang menyerang mediastinum, kan mirip juga sama tbc. Dan tbc, walaupun nggak se-seram kanker, tapi menular. Jadi buah simalakama lah, nggak berani milih, dan akhirnya dilupakan saja dan menunggu hasil dari dokter sajalah.

Jadi intinya apa?
Ya nggak apa2. Walaupun berkali-kali kaget dan ngeri dengan hasil browsing, saya toh nggak kapok juga untuk terus nyari2 informasi di internet. Karena buat saya bayangan-bayangan yang seperti penampakan itu lebih mending daripada merem dan nggak liat apa-apa trus tiba-tiba dicolek aja gitu dari belakang.. hiii...
Dan memang saya orangnya hobi browsing sih, jadi yaa.. gitu deh..

Cuma sekarang jadi jauh lebih selektif aja browsingnya. Pilih sumber informasi yang terpercaya, dan yang penting sih seperlunya dan semampunya aja. Sesuai kebutuhan.

I admit, saya nggak selalu se-kritis itu kalau sedang browsing, karena kadang suasana hati memang perlu hiburan, perlu sesuatu yang membuat lebih optimis. Jadi ya, seperti saya bilang tadi, sesuai kebutuhan aja.

Ada waktunya saya browsing karena memang butuh informasi supaya lebih mantap waktu konsultasi ke dokter nantinya, ada juga waktunya saya browsing untuk mencari 'ketenangan batin'.
Kalau sedang cari informasi biasanya saya baca sebanyak-banyaknya, semampunya tentu saja.
Tapi kalau sekedar mencari ketenangan batin, ya saya pilih yang bagus-bagus aja, haha..

Trus batinnya jadi tenang nggak? 
Nggak selalu sih, kadang bisa tenang, tapi kadang malah tambah pusing, hehee..
Lagian sudah dikasih tau juga di Al-Qur'an : Alaa bidzikrillaahi tathma'innul quluub, Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Jadi udah ngerti ya Fah, lain kali kalo pengen hati tenang baca Qur'an, dzikir, jangan baca internet, huehue *ngomong sama diri sendiri*

Jadi, kembali ke browsing tadi itu, meskipun sekarang banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan di internet, tapi tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Siapapun bisa memposting apapun di internet, jadi kita sebagai pengguna yang harus memasang 'ekstra filter' untuk bisa selamat mengarungi lautan informasi ini.

Aturan utama adalah : Waspadalah, waspadalah!

Informasi di internet bisa datang dari mana saja.
Banyak yang berniat baik dan benar-benar ingin menolong orang lain. Tapi karena siapapun bisa posting apapun, kadang secara nggak sengaja orang bisa menyebarkan informasi yang kurang tepat atau bahkan menyesatkan.
Banyak juga yang niatnya kurang baik, yang dengan sengaja menyebarkan informasi yang tidak-tidak.
Banyak juga yang niatnya sebetulnya baik tapi kurang tulus, misalnya tujuan utamanya jualan. Nah ini mungkin informasinya bisa bener, bisa juga nggak bener, tapi yang jelas kemungkinan bias atau nggak objektifnya besar. Lhawong niatnya aja jualan. Sebagaimana iklan kecap yang pasti nomer satu, maka sesuatu yang dijual biasanya juga dinomorsatukan.
Informasi dari penjual tentu nggak selalu salah. Kadang bisa juga bermanfaat, tapi mungkin bukan yang kita perlukan ketika mencari informasi mengenai penyakit kita.

Bagaimana memastikan informasi yang kita dapat itu bisa dipertanggungjawabkan?

Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan untuk memastikan keabsahan informasi yang kita dapatkan, khususnya dari internet:
oh ya, aslinya didapat dari sini

Siapa yang  mengelola/memiliki website-nya? Siapa yang mendanai?

Apakah situsnya dikelola oleh individu atau organisasi? organisasi apa? bisnis, lembaga pemerintah, atau organisasi nirlaba (non profit)?
Bagaimana mengetahuinya? Biasanya website yang bertanggungjawab akan mudah diketahui pemilik/pengelolanya. Diantaranya melalui halaman "About us"  atau "Tentang". Cara lainnya dari alamat website-nya. Biasanya di domainnya ada .edu, .com, .org, atau .gov. Bisa juga or.id, go.id, co.id, ac.id, dimana 2 huruf terakhir menunjukkan negaranya (dalam hal ini id = Indonesia).

Apa tujuan atau misi website tersebut?

Biasanya berkaitan dengan poin di atas (siapa yang mengelola dan mendanai situsnya). Website yang disponsori oleh penjual produk/obat tertentu, baik itu medis ataupun alternatif, bisa jadi informasinya akan kurang netral dan lebih mendukung produk yang dijualnya (tentunya).

Siapa audiens yang dituju oleh website tsb?

Apakah informasinya ditujukan untuk pasien/orang awam, atau petugas kesehatan? Ini berkaitan dengan bahasa/cara penyampaian. Biasanya situs yang ditujukan untuk pasien akan lebih mudah difahami daripada situs untuk petugas kesehatan.


Dari mana sumber informasi yang ada di situs itu? 

 - bisakah kita ketahui asal informasinya? berdasar fakta ilmiah atau pengalaman individu?

Pengalaman personal, atau biasa disebut testimonial, mungkin lebih mudah difahami dan lebih 'mengena' di hati, sehingga lebih terasa meyakinkan. Tapi perlu diingat, bahwa tidak selamanya sesuatu yang cocok untuk orang lain itu cocok juga untuk kita.
Terlebih untuk kanker, yang kita tahu bahwa penyakit ini sifatnya sangat individual. Artinya, dua orang dengan jenis kanker yang sama, belum tentu akan sama kondisinya. Apalagi kalau jenis kankernya beda.
Demikian juga reaksi obat/terapi pada satu orang, kemungkinan besar akan berbeda dengan orang yang lain.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi, diantaranya : jenis kankernya, grade-nya, stadiumnya, kondisi fisik pasiennya, komplikasi atau penyakit lain yang diderita, dan lain sebagainya.
Inilah mengapa konsultasi dengan dokter, berdasar data-data rekam medis yang lengkap, masih tetap diperlukan untuk pengambilan keputusan kita.

 - bisakah kita ketahui riset apa yang mendukung informasi tsb?

Situs yang baik biasanya akan mencantumkan referensi yang lengkap, berdasar jurnal/penelitian ilmiah yang dapat dipercaya.

 - apakah informasinya tampak bias, atau berat sebelah?

Informasi yang baik mestinya berimbang, menyampaikan kelebihan dan kekurangan terapi/obat/produk yang dijelaskan. Apa benefitnya, apa efek sampingnya, dll.

Apakah informasi di situs itu direview? Oleh siapa? Seberapa sering?

siapa yang menulis material di situs tsb, bagaimana kredibilitasnya? berbicara sesuai bidangnya tidak? dst.

Apakah informasinya up-to-date?

Perkembangan informasi di bidang kanker sangat dinamis, setiap hari mungkin ada hal baru yang muncul. Oleh karena itu perlu kita lihat, kapan terakhir informasi di situs tersebut diupdate?
Apakah masih relevan? Adakah informasi yang lebih baru mengenai hal yang sama?  

Bagaimana link-link situs lain yang ditampilkan website itu? 

Situs yang bertanggungjawab biasanya punya aturan mengenai link atau tautan yang ditampilkan. Apakah link-nya menuju ke situs yang terpercaya? Apakah link-nya ke situs sponsor/penjual produk/layanan kesehatan?

Nah, itu tadi beberapa hal yang bisa dijadikan panduan. Repot amat yak?
Yaa.. demikianlah.. namanya juga jaga-jaga, kan demi kebaikan kita sendiri juga. Jadi peselancar internet yang kritis dan smart, supaya kita nggak bingung dan terombang-ambing oleh informasi yang simpang siur. Dan jangan sampai keputusan kita justru merugikan atau malah berbahaya bagi diri kita sendiri.

Di samping hal-hal di atas, ada beberapa "tanda bahaya" atau warning sign, yang perlu diwaspadai (masih dari situs yang tadi) :

  • Klaim "terobosan ilmiah," "penyembuhan ajaib", "ramuan rahasia," atau "ramuan kuno".
    Atau yang sering kita dengar berkaitan dengan obat kanker adalah : 1000 (atau 100, 10.000, pokoknya angka fantastis lah) kali lebih ampuh dari doxorubicin/adriamicin.
    Secara pribadi, reaksi saya membaca kalimat semacam itu biasanya adalah : "are you kidding me?" Doxorubicin atau adriamicin ini adalah obat yang sangat keras dan beracun. Disebut sebagai obat yang bersifat sitotoksik dan kardiotoksik, alias merusak/meracuni sel dan merusak/meracuni jantung.
    Karena efeknya kumulatif, ada batas maksimal seseorang dapat menerima obat ini, dengan dosis yang harus diukur dengan sangat hati-hati, disesuaikan dengan berat badan dan kondisi fisik pasien.
    Akibat obat ini, banyak kasus dimana orang yang sakit kanker akhirnya bisa sembuh, tapi lalu meninggal karena kerusakan jantung.
    Pak dokter AWS dulu pernah bilang, untuk kondisi fisik dan dosis yang saya terima, maksimum adalah 8 kali seumur hidup. Bahkan akhirnya saya tidak jadi menjalani radiasi karena kondisi jantung tidak memungkinkan.
    Jadi, kalau efek samping dikali 1 aja sedemikian kuat, bagaimana lagi 100, 1000, atau 10.000 kali-nya?
     
  • Klaim bahwa sebuah produk dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, semacam produk sapu jagat gitu deh (sejauh ini secara ilmiah belum ditemukan produk semacam ini).
     
  • Cerita orang yang sudah merasakan hasil yang luar biasa, tetapi tidak ada data ilmiah yang jelas
     
  • Klaim bahwa produk tersedia hanya dari satu sumber, terutama jika Anda harus membayar di muka.
     
  • Klaim "jaminan uang kembali" (Meskipun hal ini mungkin membuat produk tampak tidak beresiko, seringkali tidak mungkin untuk benar-benar mendapatkan uang Anda kembali. Belum lagi nanti efek samping yang mungkin kadung kita derita.)
     
  • Website yang tidak mencantumkan nama perusahaan, alamat, nomor telepon, dan informasi lainnya.
Dan sekali lagi yang perlu diingat, yaitu : informasi dari internet tidak boleh dipakai untuk menggantikan konsultasi dengan dokter. Sebagai pelengkap, sarana kroscek, bisa, tapi tetap, berobat ya ke dokter, bukan ke google.


Memutuskan jenis pengobatan kanker memang bukan sesuatu yang mudah. Menjalaninya apalagi. Kadang kita sudah tidak punya tenaga dan energi lagi untuk memikirkan yang aneh-aneh macam begini. Jangankan surfing dan browsing, mikir hari ini bakalan bisa makan atau enggak, hari ini bakalan demam lagi atau enggak, bakalan perlu ke lab lagi atau enggak, bakalan perlu ke UGD atau enggak, dan seterusnya. Itu saja sudah menyita tenaga kita, lahir batin.
Oleh karena itu kalau lagi ada tenaga, dan mungkin pengen cari-cari tambahan info, sebaiknya kita betul-betul hati-hati menyaringnya.
Kalau pusing, mending nggak usah dipikirkan, just stick to the one you most confident about. Bismillah saja, kalau bingung banget ya tanya pak atau bu dokter yang berwenang.
Jalani selangkah demi selangkah aja, nggak usah dipikirkan yang susah-susah. Ingat2 aja kalau setiap hari yang kita jalani, setiap butir obat yang kita minum, setiap terapi yang kita lakukan insyaAllah berarti selangkah lebih dekat kepada kesembuhan.


Dan buat yang sehat, yang mungkin menjenguk kerabat atau teman yang sakit kanker, please be careful and considerate. Sebelum merekomendasikan atau menyarankan produk/terapi tertentu, ada baiknya kita cek dan croscek dulu, supaya niat baik kita itu tidak malah menambah kebingungan si sakit dan pendamping2nya.


Kamis, 29 Januari 2015

Put things into perspective

Hello world!

Laporan lagi kitah. Setelah tertunda 1 bulan akibat batuk dan radang tenggorokan, alhamdulillah terapi ke 16 sudah berhasil dilaksanakan dengan baik.

Hasil lab masih kurang oke, karena lagi-lagi LDH belum mau masuk jangkauan normal, tapi alhamdulillah LED sudah. Akhirnya untuk berjaga-jaga dokter AWS meminta untuk cek darah sebulan sekali, dari jadwal semula yang dua bulan sekali.

Waktu kontrol itu dokter bilang bahwa di luar LDH level yang masih suka ngeyel, secara keseluruhan kondisi pasiennya sudah melampaui perkiraan tim dokter. Wah, pasiennya pun secara refleks bertanya (boong ding, bertanya kan bukan termasuk gerak refleks) "Memangnya perkiraan dokter bagaimana dok?"

Kata pak AWS, dokter memperkirakan limfomanya akan sulit ditaklukkan mengingat letaknya yang ekstranodal alias tidak saja di dalam kelenjar getah bening, tapi juga di luar. Dan kondisi pasiennya waktu itu pun cukup memprihatinkan dengan berbagai macam komplikasi diantaranya pleural dan pericardial effusion atau cairan di selubung paru-paru dan jantung. Belum lagi di tengah proses sempat ada penundaan cukup lama akibat herpes. 
Dengan kata lain, sepertinya para dokter waktu itu tidak memperkirakan pasiennya akan survive.
Waktu itu sih dokter AWS nggak dengan gamblang bilang begitu, tapi secara tersirat saja.
Intinya, meskipun tetap harus terus waspada, tapi tidak boleh lupa bersyukur dan optimis, karena yang dicapai sekarang ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Beberapa waktu lalu kebetulan saya juga kembali diingatkan bahwa saya sangat beruntung bisa melalui krisis kanker dan terapinya itu, setelah mendengar kabar bahwa seorang teman meninggal ketika menjalani kemoterapi untuk limfoma. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun.

Sebetulnya limfoma atau kanker kelenjar getah bening ini termasuk kanker yang tingkat kesembuhannya tinggi. Asalkan ditangani dengan baik dan segera tentunya.
Karena limfoma ini kankernya berupa kanker darah yang sifatnya menyebar ke seluruh tubuh, maka pengobatan utamanya juga sifatnya menyeluruh, yaitu dengan kemoterapi.
Dan setiap pengobatan itu tidak ada yang tidak beresiko, termasuk juga kemoterapi ini. walaupun tingkat keberhasilannya tinggi, tapi tetap saja ada kemungkinan something went wrong.
Ada yang berhasil, ada juga yang tidak.

And I know that I was so lucky that despite all the wrong things that happened to me, in the end everything went right. Atas kehendak Allah tentunya.

Kembali ke laporan kegiatan dua hari ini, Alhamdulillah kali ini prosesnya lancar, dan kali ini ada adik tercinta yang menemani.

Berangkat jam 10 pagi dari rumah, ke YKI untuk beli mabthera,
sampai di rs sekitar jam 12, langsung dapat kamar dengan posisi bed di samping jendela.

Jam 1 sudah rapi di kamar, dan sekitar jam 17.30 sudah mulai.
Oh ya, karena sampai sekarang masih sering sesak nafas dan berdebar2, maka kali ini dijadwalkan juga echo jantung. Dan hasilnya, alhamdulillah baik.

Obat tidak perlu diminum setiap saat, cuma bilamana perlu saja.
I guess I just have to be nice to my body and my heart.

Jam 19.30 pak dokter AWS berkunjung, dan kali ini beliau kembali mengatakan bahwa I've been doing exceptionally fine. Bahwa mengingat kondisi waktu masih jadi penghuni tempat tidur sebelah selama sebulan itu (pak dokter masih ingat rupanya, kalau dulu 'kontrakan' saya di 312 bed 3), pastilah saya mendapatkan bantuan dari Yang di Atas.
Dan setelah selesai memeriksa, beliau mengatakan sesuatu yang membuat saya cukup merinding, yaitu : "Apapun yang terjadi ke depannya, sejauh ini kamu sudah bagus sekali. Di atas kertas, you shouldn't even be here right now .."

Sebetulnya selama ini pikiran seperti itu sering juga terlintas di kepala, dan saya merasa bahwa hidup yang saya miliki kali ini adalah 'bonus' dari Allah. Sebuah perpanjangan waktu.
Tapi mendengar dokter AWS mengatakan hal yang sama seolah menjadi sebuah konfirmasi bahwa memang hal itu yang terjadi. Bahwa apapun yang nantinya terjadi, apakah akan berhasil melalui milestone 5 tahun dengan kesembuhan, atau entah apa, tidak perlu terlalu takut, dan jangan sampai lupa kalau yang didapat saat ini sebetulnya adalah sebuah hadiah dari Allah.
 
Dan tugas saya sebagai pihak yang diberi hadiah, ya berusaha selalu ingat untuk berterima kasih. Be brave and be thankful, karena Allah Maha Baik. He helped you through it, jadi yakin saja kalau insyaAllah pertolongan Allah itu dekat..

Terimakasih pak dokter, karena sudah  mengingatkan kembali..

I really need that, because with all the pain, worry, loneliness, and even with the excitement, boredom and disappointment in the everyday life, it's so easy to lose that perspective

Kamis, 01 Januari 2015

Late post di awal tahun

Desember udah habis, berarti waktunya ganti kalender.
Berarti sudah dua tahun lebih sejak pertama kali mulai sakit dan mengejar-ngejar diagnosis dulu.
Dua tahun yang seperti masih kemarin.

Tapi kalau dibayangkan, rasanya seperti masih nggak percaya.
Seperti mimpi.
Seperti baca cerpen atau novel yang formulanya standar, di mana tokoh utamanya biasanya kena kanker, lalu dia berjuang dan nggak nangis, sementara orang-orang yang melihat justru nggak tega, lalu dia kemo, lalu dia sembuh.
Cuma bedanya di cerita yang ini tokohnya nggak se-heroik itu, karena sempat pada suatu masa dia tiap hari kerjanya mewek di kamar mandi.

I got cancer.
Rasanya masih seperti kalimat yang mengada-ada, lhawong biasanya saya ini sagitarius kok, bukan cancer.
Tapi sayangnya.. ini memang kenyataan, bukan novel dan nggak mengada-ada. Seperti yang mbak desy ratnasari bilang :
"Tak percaya tapi ini terjadi
Kau bersanding duduk di pelaminan
Airmata jatuh tak tertahankan
Kau khianati cinta suci ini
"
Eh, sori.. kepanjangan quote-nya. Tolong 3 baris terakhir abaikan saja *lhaa.. banyakan yang diabaikan yak*

Itu kalau cuma dibayangkan.
Kalau cuma dibayangkan, rasa-rasanya juga gak percaya bisa menjalani dan melewati masa-masa yang seperti mimpi buruk itu, dan masih bisa ngeblog sampai saat ini.
Itu kalau cuma dibayangkan.
Tapi kalau kita terlanjur 'kecebur' di dalamnya, maka nggak ada waktu lagi untuk membayang-bayangkan.
Dan memang betul yang orang bilang, bahwa manusia itu kalau kepepet bisa melakukan hal-hal yang dia nggak nyangka bisa dilakukan. Seperti misalnya cerita orang yang dikejar anjing, tiba-tiba bisa lompat pagar atau manjat pohon, padahal dalam kondisi nggak kepepet, jangankan manjat pohon, pakai sepatu hak tinggi aja mungkin dia udah ngerasa pusing karena ketinggian *halah berlebihan*

Karena pada dasarnya Allah itu memberikan ujian pasti lengkap dengan kunci jawabannya. Kalau kita diberi cobaan, insyaAllah sebetulnya kita sudah dibekali dengan senjatanya. Cuma kadang kita yang nggak sadar kalau kita punya senjata itu.
Baru sadar begitu kepepet situasi dan harus bertindak tanpa ada pilihan lain, seperti cerita superhero yang tadinya nggak tau kekuatannya, dan tiba-tiba di saat genting.. jejeng! Tau-tau bisa keluar jaring laba2 dari tangannya.

Ya kira-kira begitulah.
Intinya sih, alhamdulillah hasil pet-scan bulan lalu itu tidak menunjukkan aktifitas limfoma, alias kankernya tidak lagi terdeteksi dengan pet-scan.
Nah, sembuh dong?
Kalau bahasa awamnya mungkin begitu.
Lho, terus, kok adem2 aja?
Oh jangan khawatir, I've been dancing in my mind and celebrating. Dan tentunya rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah yang memberikan kesempatan untuk terus menghirup udara di  bumi ini dan berusaha memperbaiki diri. And thank you everybody, for your support and well wishes. Sepertinya doa-doa yang kalian panjatkan diijabah Allah. Jazaakumullah khair..

Tapi pas kontrol kemarin pak dokter nggak mau bilang begitu.
Soalnya kebetulan (nggak betul juga sih sebenernya), sudah hampir lima minggu terakhir ini batuk berat. Waktu kontrol itu bahkan sampai berhari-hari nggak bisa tidur.
Sering sesak napas, demam, dan setiap malam berkeringat banyak.
Dulu waktu mulai sakit salah empat gejalanya seperti itu.
And on top of that, my LED and LDH level was elevated, setelah 2 bulan sebelumnya masuk range normal. Ini juga salah dua gejala lainnya waktu sakit yang dulu itu.
Wah, lampu kuning nih.

Pak dokter sering bilang, yang namanya kanker itu kan sel yang bermutasi, jadi kalau sekarang nggak keliatan di scan, belum tentu sudah nggak ada sama sekali. Bisa jadi di tingkat sel masih ada tapi nggak aktif.
Dan kalaupun sudah tidak ada, seseorang biasanya baru dinyatakan sembuh kalau selama 5 tahun sudah tidak ada tanda-tanda aktifitas kanker atau istilahnya remisi, atau NED (no evidence of disease).

Jadi kesimpulannya apa?
Kesimpulannya immunotherapy mabthera-nya ditunda dulu 1 bulan.
Karena mabthera ini salah satu efeknya menurunkan kekebalan tubuh, sehingga kalau kondisinya nggak bagus begini ya jangan dulu.

Lho, kan sudah bagus hasil pet-scannya, kok masih mabthera?
Kata si bapak, SOP atau prosedur standar internasional untuk pengobatan limfoma yang model ini sekarang memang imunokemoterapi ditambah 2 tahun terapi lanjutan dengan rituximab a.k.a mabthera.

Sementara ini, minum antibiotik dulu, ditambah fluimucil dan teosal untuk sesak nafasnya.
Dan pak dokter wanti-wanti untuk memantau gejala2 yang mencurigakan, baik itu mengarah ke kanker atau masalah jantung, dan jangan ragu-ragu untuk sms kalau ada apa-apa. Satu bulan lagi, semoga sudah sehat, cek darah untuk melihat kawan2 kita om Led dan tante Ldh, apakah sudah baik lagi atau belum.
Oh baiklah. Mari kita lanjutkan ikhtiar dan doa-nya.

Eh tapi tetep kok, di akhir perjumpaan itu, pas pak dokter mengantar sampai ke pintu (kebiasaan si bapak yang saya perhatiin adalah selalu mengantar pasiennya sampai ke pintu dan membukakan pintunya untuk kita, such a gentleman) beliau bilang bahwa menggembirakan sekali melihat hasil pet-scan yang sudah bersih itu.
Alhamdulillah..

So that's my good news to start the year, tetep mohon doanya supaya tetap baik dan selalu semangat. Sekali lagi, Alhamdulillah, it's been an extraordinary year, thank you everybody, for being part of it..

Minggu, 30 November 2014

Scanxiety, kecemascan?

Alhamdulillah pet-scan sudah terlaksana dengan baik sesuai tanggal yang direncanakan.
Telat banget yak postingnya? Nggak apa lah, kan biasanya juga begitu :D
Tadinya sudah siap mental untuk berangkat sendiri, tapi hari Jumat my lovely sista kasih kabar kalau dia akan cuti satu hari untuk menemani. Huaa.. senangnyaa.. sankyuuu.. :-*

Kirain 'cuma' mau pet scan gitu, perasaan bakalan santai-santai aja. Dan memang waktu itu juga berusaha meyakinkan diri kalau ini 'cuma' prosedur biasa, bagian dari check-up rutin.
Lagian, takut kenapa sih? Paling yang agak menakutkan bagian suntik obatnya lah.  
But hey, you've been on chemo and immunotherapy for 2 years. That's countless blood drawings and infusions. Surely a little needle won't scare you that much?

Tapi ternyata nggak bisa eh.
Hatiku amat kacau, seperti setelah meletusnya balon hijau.

Ini bukan cuma masalah disuntik atau discan saja ternyata, tapi soal banyak hal.
Ini juga soal melihat bagaimana hasil usaha yang dua tahun ini, apakah akhirnya bisa bersih dan bisa mulai disebut remisi? Atau apakah justru bakalan ketemu hal-hal lain yang tadinya nggak keliatan?
Apakah justru ada efek lain dari penyakit dan serangkaian terapi yang dijalani selama ini?

Scan kali ini kalau diibaratkan mungkin seperti 'terima rapor' setelah dua tahun 'belajar' dan 'ujian'. Jadi perasaan pun jadi campur aduk antara berusaha optimis dan khawatir.
Antara berusaha berpikir positif kalau hasilnya akan ok, seperti yang diharapkan, dengan ketakutan kalau harus menjalani lagi yang sudah dilalui tahun kemarin.

Dan satu pikiran yang pasti pernah terlintas di pikiran  orang yang pernah kena kanker adalah 'jangan-jangan kankernya balik lagi'

And the internet freak side of me led me to search the internet for 'scan' and 'anxiety'.
Dan ternyata eh ternyata.. ini bukan perasaan yang berlebihan atau mengada-ada loh, karena perasaan kayak gini ini ternyata sampai ada namanya, yaitu scanxiety, alias scan anxiety, alias kekhawatiran yang dirasakan sebelum menerima hasil scan.

Bukan scan dokumen pake scanner atau mesin potokopi yaa.. tapi scan bodi alias badan. Entah itu ct-scan, pet-scan, mri, atau scan2 yang lain.
It's like suddenly your whole life is on hold, waiting for the result, is it good and finally you can move on and plan ahead, or will you have to start all over again?


Minggu, 09 November 2014

Persiapan sebelum PET-Scan?

Sebetulnya dipesen sibos untuk ngarang artikel, tapi kok ya jam segini baru bisa on.
Jangan-jangan defisit hb belum resolve ya?
Hmm... ngaku deh, harusnya kamis kemarin cek ke lab, tapi males, jadi sampe sekarang belum deh.

Intinya, i'm the queen of procrastination, so instead of doing my homework, mari kita ngeblog barang sehalaman *hihi.. maap bos, yang ini mikirnya nggak susah sih, dan nggak perlu lugas2, santey aja kaga pake ngegas*

Oh ya, padahal selasa ini pas artikelnya deadline, harus bolos ngantor karena pas jadwal pet-scan. Jadi memang harus dibuat sekarang, dan selesai nggak selesai dikumpulkan besok. Nah, ngomong-ngomong, besok itu tinggal 3 menit dari waktu ngetik sekarang. Huehe.. hopeless daah..

Seperti yang udah ditulis sebelumnya, minggu lalu sudah bikin janjian dengan bagian kedokteran nuklir mrccc. Nomer tilpunnya ini : 021-29962765, in case anyone need it.
Pas tanya ke mas2nya apa yang harus dipersiapkan untuk pet-scan besok (selasa maksudnya, karena ini udah senin), si mas bilang, puasa aja 6 jam sebelumnya.

Karena takut ada yang kelewat, secara kemarin cuma nanya lewat telpon dan buru-buru, maka jurus andalan dikerahkan, yaitu bertanya kepada google yang bergoyang.

Pet-scan yang biasa dilakukan untuk mendeteksi keganasan adalah FDG (18-Fluoro-deoxyglucose) pet. FDG pet menggunakan radiolabeled glucose, atau glukosa yang diradiasi.
Si FDG ini akan diserap oleh tubuh, dan metabolisme yang abnormal akan terlihat pada waktu di-scan, dan abnormalitas itu biasanya menunjukkan adanya keganasan atau kanker.
'Biasanya', karena bisa jadi tidak terlihat abnormalitas padahal kankernya ada (false negatif), atau terlihat aktifitas yang lebih dari normal, tetapi bukan kanker (false positive).

Karena hasil scan-nya sangat bergantung dengan bagaimana sel-sel tubuh kita mencerna FDG, dan fdg ini adalah molekul sejenis glukosa, maka tubuh kita perlu dipersiapkan supaya bisa mencerna si fdg ini dengan baik.

Tapi ternyata memang terjadi khilafiyah di kalangan ahli radiologi mengenai persiapan yang perlu dilakukan oleh pasien sebelum pet-scan. Yang umum disarankan ya seperti pesen si mas penerima telpon itu, yaitu puasa 6 jam sebelum dilakukannya prosedur.
Akan tetapi banyak juga yang menyarankan atau malah mensyaratkan beberapa persiapan tambahan, agar hasilnya optimal, yaitu sbb:
  • Hindari aktifitas berat, seperti olah raga dan kerja yang membutuhkan tenaga banyak, dan hindari pijat (deep tissue massage), selama 24 jam sebelumnya (ada yang menyarankan 48 jam)
  • Selama 24 jam sebelumnya, makan makanan yang sangat rendah karbohidrat, dan jangan mengkonsumsi gula. Makanan yang harus dihindari antara lain : karbohidrat (nasi, kentang, jagung, gandum, cereal, dst), sayuran yang mengandung tepung dan/atau gula seperti wortel dan tomat, buah-buahan, dan gula pada umumnya, kafein (kopi, teh), dairy product seperti susu dan yoghurt.
  • Hindari alkohol dan nikotin setidaknya 24 jam sebelumnya. Well, selamanya sih sebenernya
  • Banyak minum air putih, eh air bening ya.. sebelum dan sesudah prosedur. Sebelum, supaya tubuh well-hydrated, sesudah supaya zat radioaktifnya cepat dibuang melalui urine
  • Puasa selama 6 jam sebelum tindakan, boleh minum air bening saja
  • Dress warmly. Kalau yang ini sih di jakarta nggak masalah kayaknya yak
Nah, karena pet scan ini biayanya lumayan, dan efek radiasinya juga lumayan, kayaknya sayang kalau nggak dipersiapkan dengan baik. Setelah browsing2, dan kebanyakan hasil penelitian menunjukkan hasil yang lebih jelas dengan low carbohydrate diet, maka ndak ada salahnya kalau kita praktekkan juga lah ya.
Namanya juga ikhtiar.
Sekarang tinggal berdoa supaya nanti pas waktunya semua lancar, dan lebih penting lagi, hasilnya bagus, supaya bisa dapat stempel ok dari pak dokter AWS. Doakan aku yaa..

Eh iya, satu lagi, sekarang tinggal (berusaha) ngerjain pe er deh.. doakan aku untuk yang ini juga yaa..

Senin, 03 November 2014

Program ulang tahun : pet-scan

Alhamdulillah dua minggu yang lalu sudah absen rutin ke RS.
Proses kali ini alhamdulillah lancar jaya, kecuali pas cek lab ke RS Haji.
Nggak lancarnya karena jalanan macet bangeeet.. dan sampai di sana ternyata mereka baru bisa kasih hasilnya dalam waktu 4 hari, atau 3 hari kerja karena besoknya hari Ahad. Waduh, padahal biasanya selasa sore udah bisa lho, bahkan kalau dirayu dikit, selasa pagi pun bisa diusahakan.
Tapi  kali ini mas2nya beda, dan nggak bisa ngasih hasilnya sebelum rabu.
Hmm.. what to do? Selasa sore sudah mau kontrol.
Kata mas2nya, ke Pr*d*a aja.
Hmm.. browsing2, yang deket ada di kp melayu. Bisa tuh pas berangkat kerja. Tapi nggak yakin kalau ditunda2, belum lagi takut kenapa2 kalau makin mepet waktu kontrol, jadi mending hari itu diselesaikan aja urusan lab-nya.

Tapi hari itu puanasssnyaa... masyaAllah.. males banget mikirnya, harus nyari2 dulu (rada lupa dimana persisnya), trus daftar2 dulu..
Akhirnya setelah cap cip cup hitung kancing, diputuskan untuk ke Medistra langsung aja. Biar nggak perlu bolak-balik dan ambil hasilnya nanti pas kontrol sekalian.

Padahal cuma buat memutuskan dimana mau nge-lab aja, udah puyeng karena banyak yang dipertimbangkan.
Jadi keinget dulu pas mata kuliah topik khusus AI, bikin pseudocode buat proses planning, pantesan susah yak. Apalagi kalo yang dimodelkan orangnya berpola pikir ruwet kayak gini.

Cek darah di RS swasta ini memang ada lah bedanya dibanding di rs pemerintah, terutama harganya, haha.. periksa darah standard (hb, leuko, trombo, hematokrit, dst) + LED, darah tepi, ureum, kreatinin, dan LDH, di rs Haji sekitar Rp. 450.000, di RS swasta ini lebih mahal sampai 220 ribu. Tapi satu hari selesai. Dan nggak terlalu sakit pas diambil darahnya, karena sakitnya tuh disiniii... *nunjuk dompet*

Singkat cerita ,hari selasa malam tibalah waktu berjumpa dengan pak dokter AWS yang tercinta. Tumben banget pak dokter sudah hadir dari jam 18.30. Kemarin2 jam 19.30 baru dateng, bahkan kadang jam 20.30 atau malah jam 9 malem. Pasiennya sampai telat semua hari itu.

Seperti biasa, kalimat pembukanya adalah : apa kabar?
Dan setelah dijawab dengan : alhamdulillah baik, pak dokter akan mengatakan : itu kan kata kamu, sini sekarang kita lihat secara objektif apakah betul-betul baik. Pertama2 timbang dulu.

Catatan kali ini, dari sisi kankernya alhamdulillah tidak tampak aktifitas (dokter tidak menggunakan kata sembuh atau belum, karena sayangnya memang nggak bisa disimpulkan begitu saja), melihat posisi LDH dan LED kali ini sudah di dalam batas normal. Mudah-mudahan tetep normal ya.

x-ray terakhir baru 4 bulan yang lalu, jadi pak dokter belum akan nyuruh lagi dalam waktu dekat, sayang paparan radioaktifnya. Hasil yang 4 bulan lalu relatif ok, kecuali seperti sudah diketahui sebelumnya, ada left diaphragm paresis alias partial paralysis, alias otot diafragma yang melemah sehingga naik dan mengurangi volume paru-paru.

Kira-kira begitu deh gambarnya.

Efeknya mungkin karena volume paru berkurang, nafasnya berkurang, jadi aktifitas terbatas dibanding sebelumnya.
Pas mengeluhkan keterbatasan aktifitas ke pak dokter, jawaban si bapak cuma begini : ya dibatasi aja kalau begitu.
Oh baiklah... 
Kata pak dokter, ini akibat isi dada yang kacau balau waktu itu, ya kanker nempel ke sana ke mari, ya infeksi. Jadi diterima aja lah ya.. Mudah-mudahan suatu saat nanti bisa pulih sendiri. Atau kalau enggak ya bisa beradaptasi.

Catatan berikutnya adalah hb menurun lagi. Kalau dua bulan yang lalu di angka 9, kali ini turun satu poin, jadi 8. Pak dokter memutuskan untuk memberikan besi, karena suspect sementara penurunan hb adalah karena kekurangan besi. Mungkin pak dokter ingin saya mencontoh mendiang margaret thatcher, jadi wanita besi.
Pak dokter memberi arahan atau caution, bahwasanya pil besi ini paling baik diserap dalam kondisi perut kosong. Akan tetapi karena sifat pil besi ini mengiritasi lambung, maka the second best condition adalah dengan perut bersuasana asam. Jadi makan dulu, sesudah itu makan yang asam2 seperti misalnya jeruk atau vit c.
Si bapak juga membawakan resep cadangan. Kalau-kalau nanti perut nggak kuat pake resep versi 1, ganti ke versi 2 yang besinya dikunyah, bukan diminum. Tapi dicoba dulu yang v.1
Nanti dua minggu berikutnya, ke lab lagi untuk cek darah ulang, dan hasilnya dikabarkan ke pak dokter. Nggak perlu datang, cukup sms atau email aja.
Nah, kalau makan besi nggak mempan, langkah berikutnya mungkin transfusi deh. Begitu 'ancaman' pak dokter. Mudah-mudahan mempan deh yaa..

Oh ya, dalam rangka ulang tahun kemoterapi yang pertama, ada event khusus yang akan diselenggarakan, yaitu check up dengan pilihan : ct-scan atau pet-scan.
Seperti biasa, pak dokter menyerahkan ke pasiennya untuk memutuskan metode testing yang akan digunakan, apakah black box, stress test, user acceptance test, atau integration testing *halah*
Setelah minta pertimbangan pak dokter, beliau lebih cenderung ke pet-scan saja, jadi ya pilih itu deh. Kita mah orangnya nurut aja kok sama pak dokter.

Maka pak dokter membuatkan surat pengantar ke bagian kedokteran nuklir MRCCC, untuk mendaftar pet-scan.
Berbekal surat pengantar, telpon deh ke MRCCC bagian nuklir.
Biaya pet-scan di mrccc menurut mas yang terima telpon tadi adalah 8,7 juta. Prosedurnya daftar lewat telpon paling lambat 2 hari sebelumnya, lalu pada hari H puasa sekitar 6 jam sebelum prosedur.
Dapat jadwal jam 10.00 tanggal 11-11-14, wah angka hampir cantik tuh. Hampir.
Mudah-mudahan nanti hasilnya lebih cantik lagi. Bersih dan sehat.
Doakan aku yaa...