Rabu, 26 Agustus 2015

Lingkaran di sekitar kita


Ada ungkapan yang sering kita dengar, yaitu "di balik lelaki hebat ada wanita yang hebat", maka untuk seorang yang sedang berjuang melawan sakit ada juga ungkapan yang bisa dibuat : di balik pasien yang (sepertinya) hebat, ada caregiver yang tidak kalah hebat.

Kita sering kagum ketika melihat orang yang sakit berat dan tampak tetap semangat dan optimis, tapi seringkali kita lupa, bahwa di belakang.. yaa.. nggak di belakang juga sih, di samping barangkali ya.. di samping orang sakit itu biasanya ada orang-orang yang tidak kalah kuatnya, tidak kalah penting perannya, yaitu para pendamping, perawat, atau bahasa kerennya itu tadi : caregiver. 



Tentu tidak mudah menjadi seorang pendamping dan perawat orang sakit, apalagi kalau sakitnya berat dan dalam waktu yang lama. Caregiving, atau merawat orang sakit bisa jadi sebuah tugas penuh waktu, alias fulltime, dan penuh tantangan secara fisik dan mental.

Caregiver ini biasanya adalah orang-orang terdekat dari pasien, oraang tua, istri, suami, saudara kandung, anak, teman dekat, dan sebagainya. Sehingga sudah tentu mereka pun ikut merasa bersedih dengan penderitaan si sakit. Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi oleh seorang caregiver adalah:

Masalah fisik.
Banyak caregiver atau pengasuh mengalami masalah fisik karena stres dan tidak sempat merawat diri. Stres dapat menyebabkan sakit, masalah tidur, dan kurang nafsu makan. Seringkali mereka tidak mendapatkan cukup tidur dalam waktu lama, membuat mereka merasa lelah berkepanjangan. Mereka juga sering tidak memiliki waktu dan energi untuk menyiapkan makanan yang layak, olah raga, dan menjaga kesehatan pribadinya.

Masalah emosional.
Depresi umum terjadi di antara caregivers. Mereka juga mungkin merasa kesepian karena tidak sempat bertemu dengan teman-teman dan keluarga, atau karena harus berhenti dari pekerjaan atau kegiatan rutin mereka. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan perasaan cemas, frustrasi, marah, dan rasa bersalah. Masalah-masalah ini meningkat seiring meningkatnya waktu dan intensitas perawatan pasien. Kemungkinan terjadinya stres lebih tinggi di antara para pengasuh yang merasa mereka harus melakukan tugasnya, bukan atas inisiatif atau sukarela.

Masalah keuangan.
Pengasuhan bisa juga menghadapi masalah keuangan, karena caregiver ini kebanyakan adalah orang terdekat yang menjadi penanggung pasien secara finansial. Pada saat yang sama, pengasuh sering terpaksa mengurangi jam kerja, keluar dari pekerjaan sepenuhnya, atau mengurangi tabungan mereka.

Tapi di samping yang nehatip2 itu ada juga sisi positif yang mungkin dirasakan oleh seorang caregiver, misalnya semakin mendekatkan hubungan dengan yang dirawat, kepuasan batin karena merawat orang yang dicintai. Seseorang juga dapat belajar tentang kekuatan batin, kesabaran dan kemampuan lain yang mungkin tidak disadari sebelumnya, lebih percaya diri dan menghargai kehidupan. Dan lain-lain. 
Oh ya, yang jelas, pahala yang besar dari Allah dan tentunya rasa terima kasih yang tak terhingga dari orang yang dirawat.

Tentunya tidak semua orang yang sakit bernasib baik (biasanya sih orang sakit itu berarti memang sedang bernasib kurang baik ya, huehue) memiliki orang-orang yang bisa mendampingi dan merawat sepanjang waktu.
Dan saya, kalau saya boleh bilang, Alhamdulillah termasuk golongan orang-orang yang beriman, eh.. yang beruntung. I have my lovely sisters with me.

Dan saya dan adik-adik saya juga beruntung, karena banyak teman yang tidak melupakan beratnya tugas mereka (mereka = my sisters maksudnya). Some of them were very wonderful for asking my sisters not only what I need, but what they need, even what they want sometimes.
Bahkan teman-teman saya ini akhirnya jadi teman adik-adik saya juga.
Kadang di suatu siang yang cerah mereka (my friends maksudnya) menanyakan my sisters mau dibawakan makanan apa, atau mereka tiba-tiba muncul dengan jajanan yang aneh-aneh.
Walaupun tampaknya nggak terlalu wow atau wah atau hey (halah apa sih ini), tapi hal-hal semacam itu sangat berarti buat kami, bahkan di hari-hari tertentu kalau pikiran dan hati lagi butek-buteknya karena kurang tamasya (iyalah, tamasya di rumah sakit mana enak), pertanyaan semacam itu adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu.

Dan kami juga beruntung karena dilahirkan di keluarga besar, sehingga my sisters can support each other in supporting me. Walaupun ada masanya mereka saling ngambek, ya.. namanya juga sodara, kalau nggak pake ngambek rasanya kurang afdhol, hehe.. Tapi tetap saling menghibur dan menguatkan, mengorbankan waktu dan tenaga untuk bergantian jaga, bahkan datang jauh dari Bandung dan Jogja. They are my true remedy.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya perjalanan orang sakit menuju kesembuhan itu adalah sebuah proyek bersama. Banyak pihak yang berperan penting di dalamnya.

Jadi kalau ada ungkapan (ini orang hobinya kok nyari ungkapan, ungkepan mestinya lebih enak ya) bahwa "it takes a village to raise a child", maka, setidaknya menurut pengalaman saya, "it takes a village to care a cancer patient".
And I'm so grateful that I found the village full of lovely people.
Thank you all, for being so wonderful..

Senin, 24 Agustus 2015

Bangun tidur ku terus ngeblog

Entry terakhir kesannya dramatis bombastis banget ya ternyata?
Hehe.. jadi malu sendiri
Sebenernya sih gak gitu2 amat juga..

Cuma memang beberapa hari terakhir di minggu lalu (hayo.. kapan itu coba?), sepuluh hari kurang lebih lah, lagi merasa nggak enak badan aja. Eh, bukan aja ding, tapi banget.

Seperti biasa, seminggu sesudah terapi mabthera, ngedrop lagi dengan flu berat.
Bukan cuma batuk pilek aja, tapi lengkap dengan demam dan ngilu2. Ah, nikmatnyaa.... 
Tampaknya akumulasi efek mabthera ini lumayan juga ya ternyata.
Flu yang biasanya seminggu bisa tuntas, ini sudah memasuki bulan ke 10, sebentar lagi ulang tahun deh. Setiap kali ada tanda menuju sembuh, eh balik maning balik maning..

Dan badan yang barusan kena 'turun mesin' ini pun nggak bisa seperti waktu masih muda dulu. Level energinya gampang banget ngedrop. Sepuluh hari meriang, untuk balik beraktifitas lagi harus 'belajar' dari awal. Berdiri agak lama, jalan agak jauh, sedikit-sedikit tiap hari.
Padahal dulu sebelum semuanya ini terjadi *halah*, obat flu ya cuma tidur yang banyak, makan yang banyak, dan suatu pagi yang cerah terbangun dengan perasaan segar, bisa langsung pecicilan lagi.

It's like you fall asleep when you're young, and suddenly when you're awake you're a hundred years old. It takes a while to get used to the new old me. To suddenly have to let go so much and embrace the oldness.


Tapi memang ya, sepertinya harus belajar memperlakukan kanker beserta rangkaian terapi dan segala efek sampingnya ini sebagai sebuah kenyataan hidup *hehe, mulai lagi deh mendramatisir*
Maksudnya adalah, menerima rangkaian itu sebagai sesuatu yang sifatnya kronis alias jangka panjang. Lah, bukannya situ sendiri yang bilang begitu kemarin?
I know, I know, I've said that over and over myself. Tapi ngomong dan menjalankan itu ternyata beda ya :D

Kalau nggak mengingat terapi sudah tinggal 2 kali lagi, rasanya pengen minta libur dulu. Cuma sayang banget sih kalo sampai ditunda. Sedikit lagi, mudah-mudahan dua kali ini beneran yang terakhir, dan sesudah itu mudah-mudahan I can look forward to a road to recovery. I really miss feeling healthy.

Ah, kenapa akhirnya jadi mellow lagi begini sih.
Enggak kok, ini ngetiknya sambil semangat kok, bangun tidur udah nyampe kantor. Haha.. iyalah, lha wong memang lagi nginep di kantor :D
Tenang, kantornya ada kamarnya, ada sarapannya nasi goreng telor ceplok. Asik deh pokoknya..

Kamis, 06 Agustus 2015

A little talk to my self

I wish I can tell you that cancer is a short term business. A glitch in your lifetime journey.
That it will be over once you've dealt with it
And then you can walk on with your head held high, waving that survivor flag victoriously
That simple

But then, like you might hear thousands times before, nothing is that simple in life

Including cancer.
Especially cancer

It's a lifetime occupation.
Once it touched you, there's no escape.
Not even after finishing your treatment.
Not even after your lovely doctor tell you that you finally in remission, NED, cured
It will still be there. Hovering over your head like the sword of Damocles
It's in every pain that you feel, every itch, every numbness no matter how small
It's in the short and long term side effects you have to deal, even years after
It's in every doctor appointment, every blood drawing, every scan
Maybe not physically. God forbid, no. I sincerely hope it will never be. Never again.
But the shadow, the dark mark that sucks your happiness dry and leave you breathless in unending worries

I'm not trying to scare you or start my own pity party
It's just the reality
Mine at least

But don't be discouraged.
It might be hard, but not impossible to do
Just take it one at a time, day by day, step by step
It might not go away, but it doesn't have to take over your life
Be patient to yourself. Take your time.
It's ok to grieve, to cry, to feel helpless
But don't dwell there too long.
Be happy. Laugh.
If you can't find the reason, create one. It doesn't have to be something grand. Small things will do.
Because we still have so much in us beside that cancer thing.

*ngomong apa sih gue*

Jumat, 31 Juli 2015

Setengah penuh atau setengah kosong?

Konsul ke dokter AWS ini akhir-akhir ini kok jadi seperti kegiatan bertema 'glass half full, glass half empty'.
Mencerahkan banget. Sarat nuansa. Bittersweet. Selalu ada hal yang bikin pengen jejingkrakan, dan ada yang bikin pengen nangis *hiperbolis, panggilannya olis*
Kali ini dibuka dengan dokter yang geleng2 karena melihat hasil ct-scan bagus tapi hasil lab jelek banget. Diikuti dengan 'ancaman' cek lab sebulan sekali dan ct-scan lagi untuk bagian abdomen. Hiks.
Tujuannya tetap: Jangan sampai kecolongan.


Mengingat limfoma adalah kanker darah, jadi ya bisa beredar ke mana-mana. Bagian thorax bersih, bisa jadi pindah ngetem ke bawah. Se-nyangkutnya dia aja gitu. Mudah2an sih enggak yaa..


Hiks. Padahal niatnya kali ini pengen dapat lampu hijau, sudah ok, tinggal kontrol rutin saja. Gitu. Tapi ternyata belum bisa ya dok? Hiks hiks..
Tapi lalu kembali diingatkan bahwa hasil ini sudah buaguuus banget (bukan bu agus ya.. ) dan di luar perkiraan bangeet.. Maka nggak tega mau nangis juga, wong sudah dikasih bonus.


Kali ini awalnya dari membahas soal periksa bone marrow untuk diagnosis awal limfoma. Kata pak dokter, biasanya dilakukan jika dicurigai adanya ekstranodal tapi nggak keliatan di hasil scan atau ada gejala bm involvement. Dan itu biasanya kalau pasiennya masih bisa jalan-jalan gitu.
"Kalau kamu", dokter AWS geleng2, "waktu itu dari hasil scan saja sudah keliatan kalau kacau banget".


Sampai sekarang pun hatiku rasanya sering amat kacau dok, seperti sesudah meletusnya balon hijau. Misalnya kalau diancam2 suruh scan dan sering2 cek darah kayak gini. Hiks.


Eniwei, tujuan staging untuk limfoma sebenarnya lebih kepada menentukan prognosis. Kasarnya sih perkiraan harapan hidup. Misalnya kalau sumsum bersih harapan hidupnya 60%, dengan sumsum tulang kena jadi 40%.
Tapii.. Dr AWS mengingatkan lagi, angka itu juga 'cuma' statistik. Dan manusia itu jauh lebih rumit dari sekedar statistik.
"Misalnya kamu," katanya "harapan hidupmu waktu itu mungkin nggak seberapa. Cuma bedanya harapan itu didengar sama Yang Memberi Hidup."
Waaa.. Dokter ini memang bisa banget ih.




Astaghfirullah, Alhamdulillah..
Memang yang ada sekarang mestinya ya bersyukur dan bersyukur ya. Terima kasih dok, sudah diingatkan kembali. Love you *eh*

Jumat, 03 Juli 2015

Percakapan dengan Pak Dokter waktu kontrol bulan lalu


Sebetulnya yang di bawah ini sudah diposting di facebook sebagai status, tapi kok sayang kalau nggak dipasang di sini juga, biar nggak lupa nanti kalau lagi mau bikin cerita di sini lagi.

Berikut ini percakapan waktu kontrol sebulan yang lalu, mudah-mudahan kontrol bulan depan ini juga masih seperti ini statusnya, atau lebih baik lagi.


--------------


Waktu konsul kemarin, seperti yang lalu2 juga, ternyata ada sesuatu yang masih menjadi ganjalan, yaitu LDH level yang belum mau masuk range normal dan malah cenderung naik.

Meskipun itu bisa jadi indikator limfoma, tapi penyebabnya belum tentu itu, kata si om.
LDH level adalah indikator adanya kerusakan sel, dan di lembar laborat juga masuknya di panel jantung, jadi bisa saja menigkatnya itu karena ada masalah jantung. Apalagi mengingat dulu memang sempat ada masalah di situ kan.

Nah, di sini kadang saya merasa dilematis, apakah harus lega karena belum tentu limfoma, atau justru khawatir karena mungkin masalah jantung?

Tapi, kata si om lagi, bisa jadi juga karena pas periksa kemarin kondisinya lagi kurang bagus, alias masih flu.
Oh baiklah, mudah-mudahan memang itu deh dok.

Jadi, supaya jangan sampai kecolongan, bulan depan CT-Scan ya. Dan akhir tahun nanti pet-scan lagi.
Hiks, paling gak suka nih kegiatan scan men-scan ini. Tapi bagaimana lagi, baiklah..

Mungkin karena masih ada hal yang meragukan, atau karena supaya pasiennya tetep semangat dan memahami betul apa yang sudah dicapai sejauh ini, akhir-akhir ini setiap konsul om dokter selalu mengingatkan bahwa saat ini saya sedang diberikan nikmat yang sangat besar oleh Allah : nikmat hidup.

Katanya kemarin itu : Kamu ini betul2 seorang pemenang yang beruntung lho.
Wah, pemenang? Kapan perlombaannya?

Lalu si om tanya "Ingat nggak kapan pertama datang ke sini sebelum kemo? Awal 2013 kan? Sudah dua tahun lho itu."
Iya sih, dua tahun lebih sedikit. Lalu?

Kata si om, "Baru kali ini pasien saya yang kena limfoma sampai ke jantung bisa survive kayak gini. Yang sudah2, jangankan merencanakan kemoterapi, biasanya sih langsung tahlilan."
Huaa.. serem amat ih.

"Meskipun pada akhirnya yang menentukan sembuh atau tidaknya itu memang hanya Allah, tapi melihat kondisi kamu yang ringkih banget, betul-betul kejutan kamu bisa survive dan bisa kayak sekarang ini" (mudah-mudahan 'sekarang ini' maksudnya sembuh ya)

Tapi kalau dipikir-pikir, pantesan dulu pas masih kemo pak dokter beberapa kali tanya "Masih semangat kan nerusin ini?" (kemoterapi maksudnya).
Ternyata mungkin karena dari hitung2an tim dokter waktu itu, nggak terlalu banyak harapan untuk bisa mengalahkan limfoma atau bahkan survive melalui kerasnya proses kemoterapi.

Tapi atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa berada di muka bumi ini sebagai seorang makhluk hidup.

Hmm.. Berarti harus terus mengingatkan diri untuk lebih banyak lagi bersyukur nih. Walaupun masih banyak pe er seperti terapi yang masih 3 kali lagi, atau CT scan yang setiap 6 bulan, atau pet scan yang setahun sekali, dan lain2, tapi masih bisa mengerjakan semua pe er itu artinya masih diberi kesempatan untuk hidup.

Jadi apapun yang terjadi ke depan, insyaAllah, mudah2an tetap bisa menyertainya dengan rasa syukur, karena sudah diberi bonus perpanjangan waktu.

Demikianlah update status kali ini, yang ternyata belum bisa move on dari soal yang itu-itu juga.

--------

Dan ini juga, sebelum pulang sempat tanya-tanya soal kenapa kok bapil nggak sembuh-sembuh. Rekomendasinya ya makan yang sehat, istirahat cukup, hindari sumber-sumber penyakit (lha sumbernya saya sendiri deh dok, bijimana pula ini menghindar dari diri sendiri?)

...


Kata om dokter : Daripada minum multivitamin, lebih baik banyak makan buah2an berwarna. Misalnya pepaya, jeruk, mangga.

Pepaya jarang disebut2 karena memang jarang di amrik sana, padahal banyak vitaminnya. Buktinya burung beo sehat2 tuh banyak makan pepaya (ih plis deh dok).

Kalau pisang dok?
Pisang itu yang berwarna kulitnya sih ya, tapi saya nggak menyarankan kamu makan kulit pisang lho *gubrak*

Yang bagus juga paprika tuh, hijau merah kuning oranye.
Sayur dong dok?
Itu kan kita yang menyebut aja. Tapi sebetulnya kalau di tanamannya dia itu apa? Buah kan?
Oh iya juga ya.

Durian juga sebetulnya bagus (wah cocok nih), tapi ya jangan banyak2. Sebab seperti halnya duit, makanan itu juga kalau berlebihan bisa menimbulkan penyakit.
Wah belum pernah tuh saya dok, berlebihan duit.
Nah itu dia, makanya kamu penyakitnya satu ini aja. Huehehe..
Hadeeeh... Iya deh dok. Aamiin.. Mudah2an udah satu ini aja, satu kali aja.

Trus pas keluar, wah gak berasa hampir satu jam di dalam tadi. Kata mbak2 kasir : jadi 560.000 rupiah mbak.
Alhamdulillah..
Baiklah, mari kita beli buah banyak2.

Senin, 29 Juni 2015

Keberatan judul

Kenapa lama nggak ngeblog?
Mungkin jawaban jujurnya sih karena malas mikir *hehe*
Jawaban agak jujur tapi berbau alasan-nya, kayaknya karena saya terlalu nekat memilih tagline blog ini, yang ternyata kok susah ya mempraktekannya sendiri.
Iya, bener yang itu. Hadapi hidup dengan gembira.
Hehe.. sok iye banget ternyata saya nulis begitu di header. Kayak yang saya bisa gitu menghadapi hidup ini dengan terus gembira :P

Yah, sebenernya sih bikin tagline itu bukan buat siapa-siapa juga sih. Itu buat saya sendiri, buat mengingatkan kalau hidup ini dihadapi dengan bagaimanapun jalannya ya bakalan begitu.
Jadi kenapa nggak menghadapinya dengan (berusaha) gembira, toh kegembiraan itu kita sendiri yang akan paling merasakan.
Gitu kira-kira.

Jadi ketika beberapa bulan terakhir ini Allah berkenan menitipkan ke saya sesuatu yang sebetulnya nggak bombastis-bombastis amat, yaitu batuk pilek alias flu dan radang tenggorokan, awalnya (Awal-nya sih sekarang kalau siang ada di lantai 4, if you know what who I mean *hihi*) saya (berusaha) gembira-gembira aja.
Lagipula toh memang ini salah satu efek samping si obat super mahal a.k.a mabthera itu, yaitu penurunan daya tahan tubuh. Nah loh, bagaimana ceritanya obat kok malah menurunkan daya tahan tubuh? Bagaimana mau melawan kanker kalau melawan flu aja gak ku ku?
Nah ini lain kali kita cerita2 deh (kalau nggak males dan kalau tetep gembira ya *hehe*)

Tapi kena bapil berbulan-bulan itu nggak lucu juga ternyata yaa.
Apalagi kalau batuknya sampai harus terjongkok-jongkok saking ngetrilnya. Apalagi kalau sampai demam berhari-hari dan nggak bisa makan, yang walhasil sukses menurunkan hampir 8 kilo berat badan yang sudah lumayan padat berisi waktu itu.

Nggak lucu juga ternyata, karena gara-gara 'sekedar' bapil ini saya sampai mondar-mandir ke spesialis THT, spesialis paru, spesialis onkologi, dan kesimpulannya adalah "banyak makan buah-buahan berwarna", "jaga kondisi, jangan sampai ketularan orang yang sakit flu", "nanti kalau sehat (sehat dari bapil maksudnya), segera vaksin flu ya, ini saya kasih resepnya".
Makan buah sih ok-ok aja. Gimana cara nggak ketularan itu yang susyee...

Dengan kata lain, untuk sementara ini kondisi yang naik turun seperti nilai tukar rupiah gelombang ini memang harus diterima sebagai kenyataan hidup. Dan seperti tagline di atas, mari kita hadapi dengan gembira.
Walaupun yaa.. agak sulit juga bergembira ketika batuk terbahak-bahak, eh itu tertawa ya.. kalau batuk apa dong ya.. Atau ketika dalam waktu seminggu tenaga yang tersedia cuma cukup untuk 3 hari, dan selebihnya harus hibernasi untuk mengisi baterai.

Nggak gembira itu bukannya terus bersedih hati dan bermuram durja terdiam seribu bahasa air matanya berlinang mas intan yang kau kenang juga yaa..
Cuma agak prihatin dan cemas aja sih.. dan nggak bisa dihindari juga, kadang suka gak yakin kalau si bapil ini betul-betul sekedar bapil. Mengingat semua kejadian yang menyebabkan ditulisnya blog ini dulu diawalinya kan dengan 'hanya sekedar batuk pilek' juga pun.
 
Dan satu lagi, it's an awkward condition for me. Sehat tapi nggak sehat. Baik tapi nggak juga. Agak sulit menjelaskan, terutama kalau ditanya gimana kabarnya?
Biasanya sih saya akan jawab dengan "Alhamdulillah baik..", karena saya asumsikan yang dimaksud dengan kabar itu adalah yang berhubungan dengan kanker dan kawan-kawan. Dalam hal itu sih saya berharap memang baik-baik saja.
Lha tapi katanya baik, kok absen melulu?
Nah itu dia.. saya juga heran dan kurang gembira dalam hal itu..

Makanya karena sedang kurang gembira itulah, jadi agak lama nggak nulis di sini (alasan).
Takut nggak bisa konsekuen dan malah jadi mengeluh. Ya.. seperti yang sekarang sedang dilakukan ini lah, hehe..

Eeeniweyyy.. demikianlah kiranya my excuses kali ini.

Oh ya, minggu-minggu ini saya ada pe-er dari dokter Aru, yaitu CT-scan.
Nah ini juga satu lagi hal yang agak susah untuk digembirai, hehee.. orang kalau mau mengeluh memang banyak aja ya bahannya.
Enggak sih, nggak mau mengeluh kok.
Mau minta didoakan aja, seperti biasa, supaya hasilnya bagus.
Dan supaya nggak takut ntar pas discan-nya.

Doakan aku yaa..  Love youuuu...

Kamis, 26 Februari 2015

Ketika "Bagaimana" mengalahkan "Kenapa"


Untuk orang yang tiba-tiba didiagnosis kanker (nggak tiba-tiba juga sih, wong nyarinya aja sampe berbulan2), mungkin pertanyaan yang paling menggoda untuk diajukan adalah kenapa, why, mengapa oh mengapa?
Bukan why me, tapi lebih ke kenapa bisa sampai kena kanker?
Apa penyebabnya?

Dan memang, itulah pada akhirnya salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang ketika menjenguk. (disamping kenapa kemo, kenapa operasi, kenapa nggak kesini, kenapa nggak ke situ, dan kenapa-kenapa yang lainnya).

Tapi ketahuilah sodara-sodaraku yang tercinta, bahwa sampai sekarang pun belum ada penelitian yang menemukan dan membuktikan dengan sohih, apa sebenarnya penyebab kanker ini.

Ada sih, beberapa kanker yang kemungkinan penyebabnya sudah diyakini, dan ditunjukkan juga dengan hasil penelitian, seperti misalnya hubungan erat kanker paru-paru dan rokok. Atau salah satu jenis lymphoma, yaitu Burkitt's Lymphoma versi endemik yang diduga kuat berhubungan dengan infeksi virus Epstein Barr (nah lho, keren kan, udah kayak omongannya Dr House belum nih, haha).

Akan tetapi kebanyakan jenis kanker (dan jenis kanker itu ada buanyaak.. bingits), belum diketahui penyebabnya sampai sekarang.

For me, alhamdulillah dari awal bu dokter onkologi paru yang pertama kali mendiagnosis kanker sudah menekankan bahwa : ini bukan karena gaya hidup.
Mungkin karena beliau ngeliat saya hidupnya nggak ada gaya-gayanya sama sekali waktu itu ya, huehue..

Tapi bener lho, kalau dipikir-pikir lagi, alangkah bijaksananya bu dokter ketika itu, yang pesan pertamanya setelah diagnosis awal itu adalah, bahwa kanker atau tumor yang di mediastinum ini (waktu itu masih belum jelas antara limfoma, tymoma atau jenis tumor lain), bukanlah karena gaya hidup.
Karena pesan bu dokter menjadi bekal saya di hari-hari selanjutnya yang makin berat dan menghimpit itu *taelah*

Kalau tidak karena pesan bu dokter, mungkin akan kumat narsis dan masochist saya, dan dengan ge-er-nya akan merasa bahwa saya sendirilah yang telah menyebabkan timbulnya kanker ini.
Oh, that thought crossed my mind sometimes, terlebih di saat lagi lelah-lelahnya kemo dan perasaan down, tapi kalau dokter aja udah bilang begitu, kenapa saya harus sok ge er?

Toh menurut para ahli pun, penyebab DLBCL alias diffuse large b cell lymphoma belum diketahui.

Lho tapi itu katanya junk food, begadang, polusi, alkohol, gaya hidup nggak sehat, itu menyebabkan kanker?

Lebih tepatnya sih bukan penyebab, tapi meningkatkan resiko terkena kanker.

Ibaratnya begini, orang yang naik kendaraan di jalan raya, memiliki resiko ketabrak motor/mobil/bus/truk lebih besar dibanding yang tinggal di rumah saja. Tapi apa pasti semua yang naik kendaraan akan kecelakaan?
Ya belum tentu.
Lalu kalau di rumah, apa ya mungkin ketabrak bus/truk/motor/mobil?
Bisa saja, kalo bisnya nyelonong nabrak rumah.

Dan bagi pengguna jalan, orang yang nyupirnya ugal-ugalan, suka ngebut, tentunya resiko kecelakaannya akan lebih besar dibanding yang enggak. Tapi apa semua yang suka ngebut akan kecelakaan? Tentu tidak.

Dan apakah yang tertib dan mengendara dengan baik sudah pasti nggak kecelakaan? Belum tentu juga.
Ada faktor lain di luar itu, seperti pengendara lain, jalan rusak, cuaca buruk, lampu jalan kurang terang, dan lain-lain. Faktor x, y, z, dan seterusnya.

Jadi, kalo dibalik, apakah semua orang yang kecelakaan lalu lintas itu pasti nyetirnya sembarangan? Belum tentu.

Demikian juga dengan kanker. Ada yang gaya hidupnya acak-acakan, tapi toh sampai tua nggak pernah kena kanker. Ada juga yang sehat, macam atlet dan orang-orang yang menjaga makannya dan hobi olahraga, toh kena kanker juga.
Pada akhirnya, yang menentukan kita kena atau tidak kena kanker itu adalah sesuatu yang kita nggak tau. It just happened.

Yang bisa dilakukan orang yang belum kena kanker, ya meminimalisir faktor resiko.
Yang bisa dilakukan orang yang sudah kena kanker, ya berobat.

Intinya, nggak ada gunanya pertanyaan "kenapa bisa kena" itu.
Karena ada pertanyaan yang lebih penting lagi, yaitu : bagaimana.
Bagaimana cara untuk melawannya. Meminimalisir, bahkan jika memungkinkan, tentunya menghilangkan sama sekali kanker yang kadung datang dan bercokol itu.

So please teman-teman yang sudah kadung sakit, stop blaming yourself for it. Let's just say we're the unlucky ones, and let's get on with the how.
This is a disease that we don't need to look back to find the reason.
Just look forward and be hopeful, that what we do today will bring us back to health.

And for everyone else, please, stop ask us why.
Because we don't have the answer.